Hal itu terkuak kala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember bertemu dengan DPRD saat rapat dengar pendapat (RDP), kemarin (18/5), di Ruang Komisi B DPRD Jember. DPRD menilai, gelagat minimnya branding pariwisata di Jember menunjukkan bahwa Porprov tidak masuk dalam kalender pariwisata tahun ini.
Namun, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember Harry Agustriono menepis anggapan tersebut. Menurut dia, Porprov itu telah masuk dalam kalender wisata Disparbud Jember tahun ini. Dia mencontohkan pada beberapa destinasi wisata yang telah diintegrasikan dengan venue sejumlah cabor.
Seperti destinasi wisata Puncak Rembangan yang dekat dengan venue pertandingan downhill cabor balap sepeda. Lalu, destinasi wisata Kolam Renang Kebonagung yang dilengkapi fasilitas hotel, sebagai venue dari cabor renang. "Kami mencoba memberikan pelayanan maksimal di sejumlah destinasi wisata yang jadi venue Porprov tersebut," sebut Harry.
Selain itu, pihaknya mengaku telah mengomunikasikan ke sejumlah pengelola tempat penginapan, hotel, dan homestay di Jember agar membantu branding semua destinasi wisata yang ada di Jember. "Kami juga mengharapkan agar hotel-hotel atau fasilitas penginapan yang digunakan atlet bisa mem-branding pariwisata Jember," sebut Harry.
Disparbud kembali meyakinkan bahwa Porprov sudah masuk dalam kalender pariwisata Disparbud Jember tahun ini. Namun demikian, saat itu, Disparbud beserta rombongan kabid-kabid yang dibawanya belum bisa menunjukkan bukti tertulis mengenai rencana tersebut. "Nanti kami sampaikan bukti (kalender pariwisata, Red) tersebut," imbuh Debora Krisnowati, Sekretaris Disparbud Jember.
Paparan itu ditanggapi berbeda. Dewan menilai, kendati Porprov disebut sudah masuk dalam kalender pariwisata Disparbud, namun nyatanya secara konsep, pelaksanaan, maupun target, masih belum jelas atau mengambang. Termasuk besaran anggarannya yang dibutuhkan. Dengan kata lain, Porprov belum sepenuhnya masuk dalam kalender pariwisata. "Konsep itu seharusnya sudah matang, tidak lagi ngambang," seru David Handoko Seto, Sekretaris Komisi B DPRD Jember.
Saat itu, dewan juga menganjurkan agar Disparbud bisa memformulasikan branding destinasi wisata pada semua tempat di Jember untuk Porprov. Melalui skema promosi dan branding, sehingga bisa membangun kesan bahwa Jember nyaman sebagai jujukan pariwisata.
Bahkan, bila perlu destinasi wisata di Jember sudah bisa termonitor oleh para atlet dan ofisial, sebelum mereka mendarat di Jember. "Jadi, kalau hanya pasang pamflet itu ya pasif. Kurang proaktif dan cenderung tidak bisa menjemput bola. Nanti akan kami cek masukan kami ini," tambah Nyoman Aribowo, anggota Komisi B DPRD Jember. (mau/c2/dwi)
Editor : Safitri