Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengabdian Tak Tuntas, Dua Mahasiswa Meninggal

Safitri • Kamis, 19 Mei 2022 | 19:00 WIB
SAKSI BISU: Alas Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, menjadi tempat paling relevan dengan film KKN Desa Penari.
SAKSI BISU: Alas Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, menjadi tempat paling relevan dengan film KKN Desa Penari.
Setelah beberapa kejadian aneh, mahasiswa KKN memilih untuk mengakhiri KKN. Mereka meninggalkan desa yang di tengah hutan tersebut. Dua mahasiswa yang KKN, yaitu Bima dan Ayu, diceritakan meninggal dunia di masing-masing rumahnya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID - Program KKN sejumlah mahasiswa di desa sekitar Hutan Gumitir tidak sampai tuntas.  Mereka mengakhiri pengabdian di tempat itu karena sejumlah hal aneh yang misterius, seperti dikisahkan film KKN Desa Penari. Mereka tidak sanggup lagi, ditambah dengan adanya dua mahasiswa yang sekarat, yaitu Bima dan Ayu.

BACA JUGA : Beredar Poster Film KKN di Desa Penari Versi Extended

Kedua mahasiswa ini diyakini mendapat hukuman dari sang ratu penari. Dalam kisahnya, ketua kelompok KKN, Nur, memutuskan untuk tidak melanjutkan sisa waktu KKN. Dia tidak peduli dengan ancaman kampus jika tidak diluluskan. Rupanya sang ketua memiliki jiwa kepemimpinan yang bijaksana. Dia lebih mementingkan nasib temannya daripada ancaman sanksi kampus. Nur menyesal karena tidak mampu menjaga dua temannya yang melanggar adat sekitar, melakukan hubungan tak senonoh seperti diceritakan sebelumnya.

Di tengah alas itu, tangisan dan rasa penyesalan menjadi oleh-oleh mahasiswa saat memutuskan untuk kembali. Dalam kisahnya, seperti disampaikan penulis cerita bernama Simpleman, mahasiswa KKN berkomitmen untuk merahasiakan nama desa dari hutan tersebut. Tak hanya itu, sejumlah mahasiswa itu juga merahasiakan nama kampusnya. Pun dalam keterangannya mereka hanya menyebut inisial dan tanda dari desa itu.

Mereka tidak ingin nama desa yang diklaim bertempat di Sidomulyo tersebut tercemar dengan kejadian yang dialaminya. Termasuk nama baik kampus tempat mereka kuliah. Alasan tersebut disampaikan ketika kesepakatan kisahnya difilmkan. Sampai sekarang teka-teki kebenaran lokasi kisah itu belum mendapat kepastian. Para mahasiswa itu pun tidak ada yang menampakkan diri ke publik. Cerita film ini pun tetap menjadi misterius.

Namun, beberapa jejak digital sempat menggegerkan banyak setelah ditemukan foto jadul sejumlah mahasiswa yang duduk di atas batu di tengah hutan. Penemuan ini menjadi pendukung dari ciri-ciri tempat yang diceritakan langsung oleh perwakilan mereka.

Jika dipadukan dengan penyampaian ciri-ciri tersebut, Alas Gumitir yang termasuk Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, menjadi tempat paling relevan. Di dalamnya terdapat sejumlah tempat yang disebutkan. Di beberapa titik itu juga terdapat cerita yang mirip. Kini, semua tempat yang ada dalam kisah KKN Desa Penari tetap lengkap di dalam Alas Gumitir.

Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin membenarkan keberadaan beberapa tempat itu. Dia menyebut, setiap titik yang dikisahkan juga sangat mirip dengan kebiasaan yang ada di desanya. “Saya analisis, sama persis dengan yang ada di sini. Sekarang pun masih lengkap semuanya,” pungkas Mas Kades, panggilan akrabnya.

Karenanya, Hutan Gumitir, Desa Sidomulyo, itu bisa dikatakan menjadi saksi bisu dari awal kisah KKN Desa Penari. Mulai dari suara gamelan, batu Napak Tilas, sumber mata air, dan seisi alas itu. Tidak heran, beberapa hal yang ada dalam hutan tersebut masih melekat di ingatan mereka. Beberapa bulan kemudian, pascaperistiwa misterius itu, kabar duka pun datang dari Bima dan Ayu yang dikabarkan meninggal dunia.  (c2/nur)

  Editor : Safitri
#KKN Desa Penari