Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Meski Tua Renta, Awe-Awe sampai Malam

Safitri • Rabu, 18 Mei 2022 | 17:18 WIB
ADA SEJAK LAMA: Seorang nenek awe-awe di jalur Gumitir penghubung Surabaya–Bali. Hal ini identik dengan kisah KKN Desa Penari yang menceritakan ada orang yang meminta-minta.
ADA SEJAK LAMA: Seorang nenek awe-awe di jalur Gumitir penghubung Surabaya–Bali. Hal ini identik dengan kisah KKN Desa Penari yang menceritakan ada orang yang meminta-minta.
Tidak dimungkiri, orang yang beraktivitas meminta-minta di pinggir jalan seperti cerita KKN Desa Penari jarang ada di luar Jember. Namun, di jalur Gumitir, orang bisa dengan mudah menemukannya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID - Suasana sejuk dapat dirasakan siapa saja yang datang ke Gumitir. Apalagi bagi warga yang menyempatkan diri untuk beristirahat di pinggir jalan maupun di warung-warung. Di tempat inilah orang akan dengan mudah menemukan orang awe-awe alias melambai-lambaikan tangan meminta sedekah.

BACA JUGA : Beredar Poster Film KKN di Desa Penari Versi Extended

Jalur Gumitir yang merupakan penghubung Jawa–Bali jalur selatan saat ini memiliki kemiripan dengan apa yang diceritakan dalam kisah KKN Desa Penari. Ada sejumlah orang tua yang sudah renta awe-awe di pinggir jalan. Bahkan, hampir setiap tikungan tajam ada saja warga yang awe-awe. Ada yang sudah sangat tua, ada yang usia matang, bahkan anak-anak pun saat libur sekolah tak sedikit yang “diajak” awe-awe.

Memang, di Jawa Timur, bisa dibilang tidak ada lokasi seperti di jalan nasional jalur Gumitir. Hal ini semakin menguatkan dugaan lokasi KKN Desa Penari ada di Desa Sidomulyo. Sejumlah kemiripan seperti suara gamelan dari atas bukit dan adanya orang awe-awe seakan tak terbantahkan.

Penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Jember untuk menemukan lokasi KKN Desa Penari, sinyal beberapa orang tua renta yang awe-awe di pinggir jalan raya menambah keyakinan latar lokasi cerita film horor yang banyak diketahui orang tersebut. Ada orang tua renta, melambaikan tangannya kepada setiap kendaraan yang lewat. Mereka berada di pinggiran jalan raya di tengah Alas Gumitir. Beberapa pengendara pun dengan iba melempar koin, sesekali lembaran rupiah ribuan juga dilemparkan pengendara dari atas kendaraannya.

Sore hari, di Alas Gumitir semakin terasa sejuk dan dingin. Kami pun sempat berhenti dan mengobrol dengan salah seorang yang sudah renta. Dia menjadi salah seorang yang rutin awe-awe di Gumitir.

Perempuan itu tampak santai. Dia tetap melambaikan tangan kepada setiap pengendara yang lewat. Di sekitar perempuan itu tampak sebuah gubuk bambu yang dipakai untuk beristirahat. Sebotol air mineral menjadi satu-satunya barang yang ada di gubuk, saat itu.

Keberadaan warga yang awe-awe ini sudah sejak lama. Bahkan, tak heran, mahasiswa yang KKN di Desa Sidomulyo akan mengetahui hal itu.

Dugaan lokasi KKN Desa Penari di Sidomulyo juga dikuatkan dengan banyaknya jalan berliku atau tikungan. Lokasinya juga ada di tengah hutan. Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin menjelaskan, kebiasaan awe-awe tersebut sudah ada sejak lama. Mereka beraktivitas untuk mencari nafkah. “Dulu susah sekali peluang pekerjaan. Jadinya masyarakat banyak yang bekerja seperti itu,” jelasnya.

Hal itu juga disayangkan oleh pemerintah. Pasalnya, di tengah kemudahan peluang kerja saat ini, kebiasaan itu tak kunjung hilang. “Sampai sekarang masih banyak. Ada dari kalangan orang yang tua-tua. Dan sayangnya sampai sekarang kebiasaan itu menjadi mentalitas,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kamil menambahkan, awe-awe itu berlangsung sampai malam hari. Mereka pun kerap bertahan meski hari sudah gelap. Di tengah kesunyian malam, mereka tetap awe-awe kepada pengendara yang melintas di Gumitir. Mereka dapat dikatakan cukup berani berada di puncak alas yang diduga menjadi sumber suara gamelan pada cerita KKN Desa Penari. “Mereka di sana sampai malam, dan herannya mereka berani, padahal gelap dan di tengah alas lagi,” tambahnya.

Awe-awe di tengah hutan saat malam hari bisa di bilang mudah ditemukan di jalur Gumitir. Hal ini selaras dengan kisah dalam KKN Desa Penari yang kembali booming dalam sepekan terakhir. (c2/nur) Editor : Safitri
#KKN Desa Penari