Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita Eka Wahyuni Pemilik Toko Kelontong di Ajung

Safitri • Senin, 16 Mei 2022 | 18:10 WIB
LEBIH SEPI: Toko kelontong di Ajung yang berjarak sekitar 20 meter dari toko ritel menjadi salah satu saksi persaingan pasar. Namun, tetap bertahan dengan mengikuti perkembangan zaman.   
LEBIH SEPI: Toko kelontong di Ajung yang berjarak sekitar 20 meter dari toko ritel menjadi salah satu saksi persaingan pasar. Namun, tetap bertahan dengan mengikuti perkembangan zaman.  
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Toko ritel berjejaring bisa dengan mudah di temukan di Kota Suwar-Suwir. Bersebaran di banyak tempat, di pinggir jalan strategis. Bahkan, letak antara toko ritel berdekatan. Bahkan, ada yang bersebelahan dan berhadap-hadapan, hanya dibatasi jalan raya. Kondisi ini tentu mengancam keberadaan toko kelontong. Pasalnya, mereka harus terus bertahan di tengah situasi persaingan usaha tersebut.

BACA JUGA : Nikita Mirzani Bakal Adu Jotos dengan Dinar Candy di Holywings Sport Show

Persaingan bisnis toko itu dirasakan Eka Wahyuni yang tinggal di Jalan Otto Iskandar Muda nomor 67, Lingkungan Klanceng, Desa/Kecamatan Ajung. Dia menceritakan, tokonya sudah berdiri sejak lama. Sebelum ada toko ritel di dekat tokonya yang hanya berjarak sekitar 20 meter.

Sejak toko ritel di depannya berdiri, Eka merasakan betul dampak keberadaan toko modern berjejaring tersebut. Menurutnya, pembeli lebih sepi dibandingkan sebelum ada toko ritel. Bahkan, pengendara dari arah selatan maupun dari utara banyak yang beralih ke toko ritel tersebut.

"Yang saya tidak habis pikir itu, toko saya kan ada di sebelah barat jalan, dan itu di timur jalan, pengendara yang dari arah selatan lebih memilih toko ritel itu," ucapnya.

Sebagai warga biasa, dia tidak bisa protes. Padahal, perlindungan pemerintah terhadap toko kelontong dari gempuran toko ritel juga penting untuk dilakukan. Jika tidak, maka ancaman nyata toko kelontong bisa tutup karena kalah saing dengan toko berjejaring milik para orang kaya tersebut.

Sejauh ini, Eka mengaku hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk mengimbangi toko modern di dekatnya. Seperti melebarkan tempat usaha, merenovasinya sebisa mungkin. Hal itu dilakukan agar konsumen bisa mampir ke toko miliknya. Selebihnya, dia mengaku pasrah kepada Tuhan. "Ikhtiar saya, ya dengan merenovasi toko ini. Salah satunya dengan melebarkan tempat parkirnya dan konsep seperti toko ritel. “Jadi, pembeli bisa mengambil barangnya sendiri," jelasnya.

Dikatakan, renovasi toko miliknya sudah dilakukan dua kali. Namun, keberadaan toko ritel jauh lebih modern. Seperti renovasi tempat parkir agar lebih luas, sehingga pengendara roda 2 dan 4 bisa mampir ke tokonya dan nyaman memarkir kendaraannya. "Toko kami ini kan berada pas di pinggir jalan raya. Ini jalan antarprovinsi, tentunya kendaraan besar dan kecil akan melintas di sini," tuturnya.

Bangunan toko yang langsung sambung dengan rumahnya setidaknya sudah direnovasi dua kali. “Renovasi terakhir selesai akhir tahun 2021," jelas Wahyuni kepada Jawa Pos Radar Jember.

Renovasi tokonya tidak terlepas dari persaingan usaha. Termasuk untuk memperbaiki dan memperindah tokonya agar konsumen tertarik datang. "Kami tidak bisa juga mengandalkan pelanggan," jelas perempuan yang biasa dipanggil Eni tersebut.

Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, dalam kurun waktu 20 menit, jumlah pengunjung toko ritel di dekatnya dan toko milik Eni terpaut cukup jauh. Pengunjung toko ritel setidaknya ada sebanyak 30 orang. Sementara, yang masuk ke toko Eni hanya 4 pembeli. Di sini ada ketimpangan yang cukup signifikan, sehingga toko ritel dengan modal yang kuat menjadi ancaman tersendiri bagi toko-toko kelontong di Jember. (c2/nur)

 

  Editor : Safitri
#Jember #Jember Hari Ini