"Pekerjaan perbaikan kurang lebihnya di angka 40 persen. Dari 30 titik, yang progres pengerjaannya di atas 60 persen kurang lebih baru empat titik lokasi," kata Ketua Komisi C DPRD Jember Budi Wicaksono.
Menurut Budi, proyek jalan itu dijadwalkan selesai pada Juni 2022. Namun dia memprediksi tidak semua selesai pada Juni, bisa jadi melebihi target dari bulan tersebut. Apalagi, hari ini kontraktor digebuk dengan kenaikan harga aspal berjenjang. Mulanya Rp 1 juta per ton. Kemudian naik Rp 1,25 juta per ton, dan sekarang naik lagi jadi Rp 1,3 juta per ton.
Kenaikan itu juga disesalkan karena tidak diantisipasi oleh para kontraktor saat awal penandatanganan kontrak kerja sama. "Rata-rata penawaran kontraktor, HPS (harga perkiraan sendiri) aspal Rp 1,150–1,175 juta per ton. Ini yang juga memperlambat pekerjaan," sesalnya.
Legislator Partai NasDem ini juga mengakui belum menemukan regulasi yang menegaskan ada klausul perubahan harga atau contract change order (CCO). Namun yang pasti, pihaknya meminta ke Bina Marga, untuk jalan yang belum selesai dikerjakan dan ada material, agar diberi rambu-rambu. "Harus dikasih rambu-rambu, agar warga yang mudik tahu kalau ada perbaikan jalan. Takutnya orang yang tidak pernah lewat di situ jatuh,” pintanya.
Sebelumnya, Dinas PU Bina Marga, dan Sumber Daya Air Jember menyebut, kenaikan itu merupakan konsekuensi dan semestinya sudah ditanggung oleh para kontraktor penggarap jalan. Mereka juga dituntut menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak kerja di awal penandatanganan. Namun yang terjadi, kontraktor justru melambat, mereka sambat lantaran harga aspal ada kenaikan hingga 10-20 persen. (mau/c2/nur) Editor : Alvioniza