Baca Juga : Lebaran Siap Nobar, Akhirnya KKN di Desa Penari Tayang
Pasca-sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, momen setahun sekali itu pun tentu dinantikan masyarakat. Suka cita menyambut datangnya Idul Fitri sudah terasa sejak beberapa hari terakhir. Di jalan-jalan, di pasar, hingga pusat-pusat perbelanjaan, mulai sesak didatangi sebagian besar masyarakat.
Meski sebagian masyarakat ada yang berbeda dalam memulai peribadatan selama Ramadan, namun saat Idul Fitri, semua merayakan dengan penuh khidmat. Dan ada kemungkinan, perayaan Lebaran berbarengan antara pemerintah dengan sejumlah ormas besar Islam. "Meskipun ada kemungkinan Lebaran berbarengan, namun nanti kita tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah," kata Prof M Noor Harisudin, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Sebagaimana diketahui, dalam penghitungan awal Ramadan dan jatuhnya Idul Fitri, ada perbedaan metode. Melalui hisab (perhitungan penanggalan) ataupun pemantauan hilal. Sementara itu, penghitungan yang dilakukan oleh MUI menggunakan dua metode itu sekaligus.
Kemudian, hasilnya dikirim atau direkomendasikan ke MUI pusat agar menjadi rujukan pemerintah menetapkan Idul Fitri, 1 Syawal 1443 H/2022 M. Selain itu, hasil perhitungan tersebut juga direkomendasikan ke pengurus ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan lainnya. Walaupun beberapa ormas Islam juga melakukan perhitungan sendiri dalam penetapan 1 Syawal. "Pemerintah punya hak isbat (menetapkan, Red) Idul Fitri. Keputusan pemerintah mengikat pada semua warga. Ormas hanya punya hak ikhbar (meng-khabar-kan) untuk internal organisasi," jelasnya.
Lebih jauh, pria yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini menambahkan, kalaupun ada perbedaan, sejatinya bukan untuk disoal. Menurutnya, perbedaan awal Ramadan dan jatuhnya 1 Syawal itu sama-sama memiliki dasar dan harus saling dihormati. "Perbedaan memasuki awal Ramadan ataupun 1 Syawal sudah biasa. Mari kita bijak menyikapi dengan tasamuh dan saling menghargai," pintanya.
Karena itu, pihaknya juga menyerukan masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan toleran, kekeluargaan, dan kerukunan. "Mari Lebaran ini kita jadikan momen merajut kembali hubungan silaturahmi, yang sempat terkendala pandemi selama dua tahun terakhir," harapnya. (mau/c2/nur) Editor : Safitri