Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gelombang dan Retak Tanda Kerusakan Jalan

Safitri • Senin, 18 April 2022 | 20:52 WIB
BERI PERINGATAN: Personel TRC BPBD Jember menghentikan bus penghalang mobil tim evakuasi ketika melintas di Gumitir. (Foto: Tangkapan Layar Video TRC BPBD Jember)
BERI PERINGATAN: Personel TRC BPBD Jember menghentikan bus penghalang mobil tim evakuasi ketika melintas di Gumitir. (Foto: Tangkapan Layar Video TRC BPBD Jember)
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Iklim tropis yang terjadi di Jember berpengaruh terhadap awetnya konstruksi jalan. Ditambah lagi, tanah yang ekspansif akan berpotensi besar membuat gelombang. Karenanya, Dr Muhtar, dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, menyarankan agar proyek pembuatan jalan diperhitungkan secara matang. Selain itu, membuat aturan kelas tonase kendaraan dan memasang tanda kelas jalan sangat diperlukan.

Baca Juga : Tepergok Polisi di Lumajang, Tiga Ekor Sapi Warga Probolinggo Gagal Dicuri

Menurutnya, konstruksi jalan terbagi dalam bangunan jalan dari beton rigid pavement dan bangunan aspal dari susunan tanah langsung flexible pavement. Hal tersebut yang menjadi pegangan awal dalam proyek aspal.

“Terdapat jalan yang menggunakan beton, karena tanahnya sangat ekspansif. Kemudian, terdapat jalan yang dibangun melalui susunan tanah langsung, dengan syarat tanah tersebut harus tidak ekspansif,” terang Muhtar.

Dikatakan, ketika bangunan aspal langsung dari susunan tanah, konsekuensinya lebih cepat mengalami kerusakan karena tidak semua tanah sepanjang jalan bagus. “Kerusakan awal berupa gelombang. Sebab, tanah mengalami ekspansif atau tidak kuat menahan beban. Ditambah musim hujan, kenak air. Nah, ini sisi lemah aspal yang tidak memakai beton,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kemudian, bangunan aspal yang menggunakan beton akan berpotensi mengalami retak ketika tidak kuat menahan beban. Hal ini cukup membahayakan, karena retaknya merembet ke sepanjang jalan. “Sedangkan jalan yang pakai beton, kerusakan awalnya biasanya retak. Setelah retak, dia akan merembet ke sepanjang jalan. Akan semakin cepat ketika ditambah musim hujan. Berbeda dengan jalan yang bergelombang yang hanya terjadi pada satu sisi saja, dan tidak mungkin merembet,” urainya.

Pihaknya juga menjelaskan, kondisi yang tropis tersebut menuntut pemerintah untuk meningkatkan perawatan jalan yang sudah diaspal agar tidak cepat mengalami kerusakan. “Ini menjadi tugas bersama, terutama pemerintah, untuk merawat jalan agar awetnya panjang. Seperti membatasi atau membuat kelas tonase kendaraan yang akan melintas di jalan aspal. Diukur dengan kekuatan jalan,” imbuhnya.

Berkaitan dengan itu, jalan aspal serta kendaraan yang hendak melintas mempunyai kelas tonase tersendiri. Tentu selain perawatan berjalan diperlukan aturan kelas tonase kendaraan yang sesuai dengan tonase konstruksi jalan. “Selain menambal ketika ada keretakan, seharusnya juga ada kelas kendaraan yang hendak melintas, yang diukur dengan kekuatan jalan,” pungkasnya. (mg4/c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #Headline #Jember Hari Ini