Ibu-ibu ini tergabung dalam Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Jember. Warung murah yang mereka gelar itu menyajikan menu makanan yang cukup beragam. Namun, harganya sangat terjangkau, Rp 2.000 saja. Itu pun sudah termasuk air mineral kemasan gelas.
Tak heran, sedari pukul 15.00 mereka sudah sibuk mempersiapkan dagangan yang akan dijual rugi itu. Mulai dari penyiapan menu seperti nasi, sayur, dan lauk, semuanya disediakan. Satu dua jam kemudian, sejumlah warga pun banyak yang mengantre untuk membeli nasi dua ribuan itu di dekat Klinik Panti Siwi, Jalan Kartini, Jember.
Warga saat itu, baik umat Katolik yang berjualan maupun umat muslim yang membeli, terlihat sama-sama senang. Maklum, umat Katolik ingin berbagi dengan cara menjual rugi nasi bungkus. Sementara, umat muslim yang datang merasa terbantu dengan warung nasi dua ribu rupiah itu.
Ketua WKRI Eli Krisnaningsih menuturkan, tujuan dari warung murah tersebut yaitu membantu sesama. "Hanya untuk berbagi, menolong sesama yang kurang beruntung," ucapnya.
Beberapa orang yang menjadi sasarannya seperti tukang becak, para pemulung, dan yang rumahnya jauh, sehingga belum sempat pulang untuk berbuka puasa. Setiap harinya warung WKRI menyediakan sedikitnya 150 porsi makanan.
Biasanya, lanjut Eli, mendekati Hari Raya Idul Fitri, nasi yang disediakan mencapai 300 porsi. Per bungkus nasi yang hanya banderol Rp 2000 ini jauh dari modal yang dikeluarkan. “Modalnya sekitar satu juta," ujar perempuan yang tinggal di Perumahan Muktisari itu.
Kegiatan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 20 tahun terakhir. Spesial dibuka khusus bulan puasa. "Melanjutkan dari para senior kami," kata Eli. Sementara, pada pandemi kemarin sempat tidak dibuka karena adanya larangan berkerumun.
Pembukaan warung murah berawal ketika anggota WKRI pulang ibadah dari gereja. Mereka melihat banyak abang becak yang menanyakan apakah telah berbuka puasa. "Dari situlah ada inisiatif untuk menolong mereka yang rumahnya jauh," jelasnya.
Dana pengelolaan dilakukan dengan iuran anggota. Hingga terkumpul sebagai modal penjualan. Jika dihitung, sangat jauh selisih antara pendapatan dengan pengeluarannya. Pendapatannya hanya Rp 300 ribu, sedangkan modalnya sekitar Rp 1 juta. Tetapi, dari hal ini banyak orang yang akhirnya ikut menyumbang.
Orang-orang bergabung dan memberikan modal sebagai wujud berbagi. "Menggerakkan orang lain untuk berbagi," tutur Eli. Sumbangan ini berupa bahan makanan yang bisa dimasak, seperti beras, telur, dan sebagainya.
WKRI yang beranggotakan 40 orang ini membuka warung murah di hari-hari selama Ramadan. Namun, akan tutup di hari ibadah umat Katolik. "Senin sampai Kamis buka. Selain itu kami ibadah," tutupnya.
Reporter : Mega Silviana (mg)
Editor : Nur Hariri
Fotografer : Jumai Editor : Alvioniza