Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sumbangan Gabah Modal Pembangunan Masjid Al Baitul Amien

Maulana Ijal • Minggu, 10 April 2022 | 16:40 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Jember memiliki banyak bangunan masjid yang memiliki nilai historis baik dari segi arsitekturnya maupun dari keunikannya, salah satu masjid yang paling fenomenal yaitu Masjid Jami' Al-Baitul Amien.

Masjid yang berlokasi di tengah-tengah jantung Kota Jember ini berlokasi di Jalan Sultan Agung atau tepat  bersebelahan dengan Pendapa Wahyawibawagraha. Nama Al Baitul Amien sendiri memiliki arti rumah Allah yang aman. "Bisa juga diartikan rumah yang dapat dipercaya," ujar Muhammad Husi'ien, Ketua Yayasan Masjid Jami' Al-Baitul Amien.

Husi'ien menjelaskan, Masjid Jami' tersebut memiliki dua bangunan yang dipisah oleh jalan protokol Jember-Bondowoso, sedangkan masjid yang lama a terletak di arah selatan bangunan yang baru. Dua masjid itu dihubungkan dengan jembatan penyeberangan orang (JPO).

Dia menjelaskan, mengapa membangun masjid jami yang baru tersebut, karena alasan perluasan dan hal itu inisiasi oleh Bupati  Abdul Hadi pada sekitar tahun 1970-an. Melihat perkembangan jember pada saat itu yang semakin ramai, termasuk banyak perguruan tinggi yang akan menopang percepatan masyarakat. "Sebenarnya bukan pembangunan masjid baru, melainkan hanya perluasan, setelah dilihat bangunan masjid lama tidak dimungkinkan untuk dilakukan perluasan. Karena di depan itu jalan raya sedangkan belakang dan samping perkampungan. Akhirnya, dilakukanlah perluasan masjid baru dengan penghubung jembatan itu JPO," tuturnya.

Pada awalnya,  gagasan tersebut mendapat banyak pertentangan dari kalangan para ulama. Karena dikhawatirkan akan menghilangkan jariyah para pendahulu yang telah membangun masjid jami’ lama. Sehingga dilakukannya musyawarah untuk mencari jalan tengah-nya, sampai  KH Ahmad Shidiq, salah seorang ulama terpandang kala itu, tampil memberikan rasionalisasi dan memberikan persetujuan untuk membangun masjid baru di seberang jalan, dengan catatan tidak membongkar masjid lama. Juga dibuatkan jembatan sebagai penghubung antara bangunan masjid baru dengan bangunan masjid lama. "Memang tidak memungkinkan untuk dilakukan perluasan, kebutuhan semakin meningkat, akhirnya beliau menyetujui pembangunan masjid baru, dengan catatan bangunan yang baru tidak boleh terpisah, harus ada bagian masjid yang lama, sehingga harus ada jembatan penghubung" ucapnya.

Pada saat diresmikan pada tanggal 3 Mei 1976 oleh Menteri Agama RI kala itu, Prof KH Mukti Ali, diketahui masjid tersebut masih masih belum dibangun jembatan penghubung. Lalu Pemda Jember mencari rekanan dari Surabaya untuk membangun jembatan penghubung. "Karena peresmiannya dilakukan mendesak dan kebetulan ada menteri agama ke Jember waktu itu. Sehingga belum dibangun jembatan penghubung itu," ungkapnya.

Dalam sejarah pembangunan masjid ini pun sangat melibatkan peran masyarakat. Hal itu terbukti dari salah satu sumber dana pembangunan masjid yang berasal dari pengumpulan sumbangan padi atau gabah sebagai bagian dari zakat hasil bumi sebanyak empat kuintal gabah untuk tiap hektar, yang diambil berangsur selama dua kali panen. "Sehingga menjadi kolaborasi antar Pemda Jember dengan masyarakat. Gabah yang didapat semua penduduk Jember waktu itu," tuturnya.

Jurnalis: mg6
Fotografer: ACHMAD FAIZ/RADAR JEMBER
Editor: Dwi Siswanto Editor : Maulana Ijal
#Masjid