Batu itu didapat oleh salah seorang warga Kranjingan. Lokasi penemuan terletak di areal Pesarean Mbah Ranting, yang terletak di areal persawahan Muktisari, Kelurahan Tegal Besar. “Bermula dari laporan saudara Imam Jazuli. Lalu, kami survei lokasi,” ungkap Yopi.
Selanjutnya, pendataan pun dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember. Tak hanya pendataan, Yopi mengungkapkan, pihaknya dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Jember juga melakukan perekaman titik koordinat lokasi areal dan temuan-temuan yang ada di areal Pesarean Mbah Ranting. “Di sekitar pohon ini batu bertulis tersebut ditemukan,” kata Imam Jazuli, menunjuk pohon jambu tua yang ada di areal pesarean tersebut.
Temuan-temuan lainnya di lokasi Pesarean Mbah Ranting adalah makam dengan dua patok nisan dari granit (baru), blumpang dengan ceruk di tengahnya, yang terdapat batu bulat, serta dua batu lonjong di sekitar lumpang. Identifikasinya, batu bertulis tersebut berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 24 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 7 cm, dengan berat 3.184 gram atau 3,18 kilogram, dan di satu sisi terpahat beberapa aksara. "Masih akan dikaji untuk aksara dan tulisannya apa," imbuhnya.
Hingga saat ini, hasil dari identifikasi atas penemuan tersebut dilakukan oleh pakar epigraf Jawa Timur, Goenawan Sambodo. Ia dikenal sebagai ahli epigraf dan ahli sejarah kuno, serta menjadi mitra para pegiat sejarah nasional. Semua prosesnya dilakukan secara daring. "Mbah Goen menyebutkan ada sekitar 4 sampai 5 huruf, sedangkan yang bisa terbaca jelas huruf pertama dan huruf kedua," tuturnya.
“Rang Jing”, demikian huruf pertama dan kedua hasil pembacaan oleh Mbah Goen. Untuk selanjutnya, Mbah Goen menyarankan agar temuan tersebut dilaporkan ke pihak berwenang, pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Kami akan melaporkan secara tertulis kepada Bupati Jember melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, juga ke BPCB Jawa Timur di Trowulan,” pungkas Yopi.
Setahun Banyak Benda Ditemukan
Penemuan barang bersejarah secara nasional disebut meningkat. Hal ini diikuti dengan beberapa penemuan di tingkat regional, seperti di Jember. Jumlahnya naik setiap tahun. Hal ini diungkapkan Yopi Setyo Hadi. Namun, masih tidak dapat dikalkulasikan. Sebab, siklusnya, penemuan itu perlu mendapatkan follow-up pengkajian. Sehingga didapat data dan indikasi barang temuan itu.
Mengenai jejak sejarah dan usia temuan itu, Yopi tidak dapat memberikan komentar kenaikannya berapa persen. "Butuh follow-up kajian. Kalau berapa persen kebaikannya, belum bisa menjawab, karena belum ada datanya," katanya.
Berdasarkan temuan yang dihimpun di yayasannya, jumlah temuannya tak lebih dari 10. Penemuan itu perlu mendapatkan sebuah kajian dari pakar. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan museum daerah untuk segera ada.
Dengan demikian, semua barang antik yang ditemukan dapat dikoleksi oleh pemerintah daerah melalui museum. Selanjutnya dilakukan sebuah diskusi untuk melacak riwayat sejarahnya. "Berdasarkan undang-undang, barang-barang itu bisa disimpan di yayasan individu, swasta, dan daerah. Tapi, daerah punya andil besar. Karena program ini sudah ada di RPJMD," ungkap Yopi.
Dengan demikian, literasi dan penyimpanan akan barang-barang yang menjadi temuan itu tetap ada. Serta kajian-kajian untuk melacak sejarahnya pun akan hidup. Sehingga ke depan anak muda atau masyarakat Jember tidak buta akan sejarah yang ada. "Walaupun berbentuk galeri tidak apa-apa, yang penting ada dulu," jelasnya.
Adapun wacana penempatan museum daerah di bekas bangunan atau kantor Dinsos, menurutnya cukup baik. Namun, jika tidak kunjung direalisasikan, maka akan menjadi wacana. Sehingga cita-cita untuk memiliki museum daerah akan menjadi wacana saja.
Yopi menjelaskan, jika kondisi ini tetap berlangsung, yakni tidak adanya museum, maka barang-barang temuan itu berpotensi tidak dapat terdokumentasi dengan baik. Kajian dan jejak sejarahnya juga akan hilang. "Yang paling penting adalah kajian-kajian dari sebuah penemuan. Jadi, bisa dilacak sejarahnya bagaimana," urainya.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Nur Hariri Editor : Maulana Ijal