Warga hanya mengenal Hafid sebagai tukang servis TV dan pasang parabola. Selain itu, warga juga mengetahui jika Hafid bekerja di salah satu toko elektronik di Jember. Di toko ini, pria dua anak itu bekerja sebagai teknisi. "Dia sering dipanggil orang untuk memperbaiki televisi dan memasang anten parabola,” kata Yuli, warga Dusun Krajan Baru, Desa Bedadung, kemarin (19/1).
Menurut warga, Hafid yang merupakan pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu berasal dari Banyuwangi. Dia kemudian menikah dengan perempuan asal Kecamatan Mayang Jember. Di tempat tinggalnya sekarang, Hafid diketahui tidak pernah berbuat macam-macam. Dia juga cukup ringan tangan ketika ada tetangga yang meminta bantuannya memperbaiki televisi yang rusak. “Orangnya baik kok, dan sering dipanggil untuk masang anten parabola. Kalau kesehariannya bekerja di toko elektronik,” pungkas Yuli.
Jawa Pos Radar Jember berusaha mencari keterangan tambahan dari warga yang lain. Tetapi, kebanyakan mereka menolak berkomentar. Namun, rata-rata warga menyatakan bahwa Hafid yang kini menjadi pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu merupakan warga baru dan belum lama tinggal di Desa Bedadung. Sebelumnya, warga menyebut, dia tinggal bersama istrinya di Kecamatan Mayang Jember.
Sehari setelah terjadinya pembunuhan di sekitar stasiun Jember yang menggegerkan pusat kota Jember itu, warga di sekitar lokasi kejadian masih banyak yang membicarakan peristiwa berdarah tersebut. Warga tidak menyangka kejahatan itu terjadi siang bolong dan di dekat pusat keramaian.
Hamid, 45, warga Jalan Kaliurang, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, yang setiap hari bekerja di sekitar stasiun ini, mengatakan, sebelum pelaku dibekuk oleh warga, terdengar ibu korban yang berteriak rampok. Saat itu, banyak orang yang datang. Namun, pintu pagar sudah ditutup dan pelakunya sudah ditangkap.
Menurut dia, warga yang datang tidak berani masuk karena dua orang yang menangkap itu mengalami luka-luka. "Saya melihat pelaku sudah diikat dengan tali rafia. Bahkan wajah pelaku sudah mengeluarkan darah dari kepalanya," kata Hamid.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin, di rumah duka banyak karangan bunga sebagai ucapan bela sungkawa. Baik dari teman alumni sekolah maupun keluarga lainnya. Sementara, di teras rumah korban masih terpasang garis polisi. Sedangkan pintu pagar bagian depan tertutup rapat.
Reporter : Juma’i/Radar Jember
Fotografer : istimewa
Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember Editor : Ivona