Ada 109 guru seni budaya yang dibutuhkan untuk 78 lembaga sekolah. Namun, hingga seleksi PPPK memasuki tahap akhir, hanya ada satu pendaftar yang lolos. Yakni pendaftar dari SMP Negeri 1 Kalisat. Yang bersangkutan adalah satu-satunya peserta yang mendaftar pada formasi itu. Di lembaga tersebut membuka tiga formasi, namun hanya satu formasi yang terisi.
Keberadaan guru mata pelajaran seni budaya diketahui sangat minim. Hal ini ditegaskan oleh Ketua PGRI Jember Supriyono. "Ada guru matematika di Ajung merangkap jadi guru seni budaya. Di Kencong, guru PKN juga jadi guru seni budaya. Ini saking minimnya," ungkap Supriyono, Selasa (21/12).
Menurut dia, ada beberapa penyebab sepinya pendaftar formasi pada guru seni budaya. Pertama, formasinya tidak disiapkan sejak awal. "Sebanyak 3.671 ini terdiri atas guru apa, hanya guru SD dan SMP. Apakah di situ juga disediakan formasi untuk guru seni budaya?" kata Supriyono.
Selain itu, lanjut dia, jumlah lulusan seni budaya juga sangat minim. Sehingga pendaftar formasi tersebut juga sedikit, bahkan tidak ada. "Makanya kita lihat laporan evaluasi PPPK. Mau tidak mau, pemenuhan akan kebutuhan seni budaya akan diprioritaskan di tahun depan melalui rekrutmen PPPK,” ujarnya.
Pihaknya berharap, jika hal itu menjadi kebutuhan SDM di SMP, maka nantinya guru seni budaya akan menjadi prioritas pemenuhannya melalui analisis kebutuhan guru. Menurut dia, sebelum penetapan formasi guru PPPK, perlu adanya analisis kebutuhan guru. "Misalnya, di SMP itu ada guru apa saja, jenis mata pelajaran apa saja, yang pensiun berapa saja. Kalau tidak ada analisis, bisa keluar dari kebutuhan nanti," terangnya.
Reporter : Dian Cahyani/Radar Jember
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Editor : Lintang Anis Bena Kinanti/Radar Jember Editor : Ivona