Pengurus Universal Finishing Community (UFC) Andre Setiawan mengeluhkan hal ini. Menurut dia, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ia dan komunitasnya cukup kesulitan mendapatkan ikan ketika memancing di aliran sungai perkotaan. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, dalam kurun waktu setengah hari, Andre biasanya mendapat lima ikan wader dengan ukuran telapak tangan. Namun saat ini, dalam waktu setengah hari hanya mendapatkan antara dua hingga tiga ikan saja.
Dia menjelaskan, praktik illegal fishing yang masif dilakukan biasanya berupa penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum. Tak hanya di perkotaan Jember, hal ini juga marak terjadi di desa-desa Jember. Imbasnya, populasi ikan di sungai menjadi minim dan tak dapat bertumbuh menjadi besar. “Di desa-desa malahan sudah kolektif. Ada sekelompok orang nyetrum. Saya untuk mendapatkan ikan mancing ukuran besar di kota saja sulit,” ungkapnya, kemarin (13/12).
Selanjutnya, Andre menuturkan, adanya penangkapan ikan dengan alat bertegangan listrik itu kini sudah banyak dijadikan sebuah pekerjaan oleh sebagian orang. Hasil tangkapan ikan itu akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan ikan wader di sejumlah warung-warung di Jember. “Jadi, sudah ada pasokannya untuk wader-wader di warung lalapan itu,” tuturnya.
Ia berharap, Jember memiliki peraturan daerah yang mengikat. Tujuannya agar ikan-ikan endemik yang ada di Jember bisa lestari. Sedangkan di beberapa desa, aturan semacam ini sudah diberlakukan. Yaitu pelarangan aktivitas illegal fishing dengan penyetruman. “Minimal kalau sudah besar kita pancing bersama. Kalau di desa-desa Jember sudah berjalan. Misalnya, daerah Ambulu dan Balung,” tuturnya.
Terpisah, Kasi Kelembagaan dan Pelaku Usaha Dinas Perikanan Jember Nurul Hidayah menyebut, setidaknya ada beberapa masalah utama pada aliran sungai. Yaitu, masalah sampah yang menyebabkan ikan berkurang, illegal fishing berupa penyetruman ikan, dan potassium atau racun.
Dari problem itu, hampir semua aliran sungai di Jember mengalami krisis ikan. Ini bisa dilihat dari tiap tahun permintaan penebaran benih ikan di perairan umum selalu meningkat. “Itu yang menyebabkan populasi ikan endemik di sungai berkurang. Karena itu, tiap tahun mulai 2009 lalu, Dinas Perikanan selalu menebarkan ikan-ikan endemik di perairan umum,” kata pria yang akrab disapa Cak Oyong tersebut.
Melalui penebaran benih ikan di beberapa titik sungai di Jember itu, Cak Oyong berharap, ekosistem sungai dan perkembangan ikan endemik dapat membaik. Adapun jenis benih ikan yang ditebarkan adalah wader, tawes, dan tombro. “Penebaran benih ikan ini ada di tiga lokasi. Sungai di bawah Jembatan Imam Bonjol Kaliwates, di Kali Mayang, dan Sukorambi. Jumlah benihnya wader 77 ribu, tawes 100 ribu, dan tombro 113 ribu,” pungkasnya.
Reporter : Dian Cahyani/Radar Jember
Fotografer : Dian Cahyani/Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember Editor : Ivona