Hal itu dibuktikan dengan bekas bangunan sebuah pabrik dan kantor Perkebunan Sentool di Dusun Glengseran, Desa Suci, Kecamatan Panti. Lokasi yang kini berada di area perkebunan milik Koperasi Zidam V/Brawijaya itu masih kokoh dan tegak berdiri. Bahkan juga beroperasi di usianya yang memasuki satu abad lebih.
Tampak di beberapa sudut bangunan kantornya, nyaris tak ada perubahan. Khas arsitektur lawas. Keramik, kusen, sampai atap, semua utuh. Yang paling mengesankan adalah ketebalan temboknya yang hampir sepanjang ukuran lengan tangan orang dewasa.
Di dalamnya tampak beberapa ruangan yang cukup lega. Lalu, sebuah pigura berisikan foto-foto jadul yang menunjukkan aktivitas orang-orang Belanda di pelataran kantor tersebut. Foto itu seolah mengisyaratkan bagaimana para noni dan suaminya berbaur dengan masyarakat pribumi.
Sementara, tepat di depan berjarak sekitar 20 meter, ada pabrik pengolah karetnya, juga sama demikian. Meskipun warna dinding yang kusam dan dominan coklat kehitaman, namun semua utuh. Mesin-mesin tua pengolah karet juga masih beroperasi. Tumbuhan rerumputan menjulang tinggi di sekitarnya kian menambah kesan kuno pada bangunan tersebut.
Direktur Perkebunan Sentool Nuril Mustofa menjelaskan, pabrik karet tersebut sudah ada dan berdiri sekitar tahun 1850-an. Saat itu masih di era pemerintahan Inggris. "Salah satu ciri khas dari kekuatan bangunan kuno itu pada konstruksi bangunan. Material pasirnya itu dicuci dulu, sementara kusen kayunya mengambil kayu pilihan, jadi bertahan lama," kata Nuril.
Menurut dia, pada medio 2011 lalu, salah seorang pria asal Belanda datang ke situ. Dia membawakan beberapa foto hitam putih lawas yang terdokumentasi di sekitar pertengahan abad 19 silam. "Di beberapa foto itu, dia mengaku bahwa foto itu ada salah satu leluhurnya, dan dia sendiri adalah cucunya," kata Nuril, menirukan cucu noni Belanda tersebut.
Dia menambahkan, selama berdiri sampai sekarang, pihaknya tak banyak melakukan perombakan konstruksi. Hanya memperbarui cat dinding dan menambah sedikit kanopi di bagian depan bangunan. "Sebenarnya ini sudah layak ditetapkan sebagai salah satu warisan karena sudah satu abad lebih usianya. Namun, kami belum berpikir ke sana. Sekarang bagaimana mengembangkan dulu," tambah dia.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal