Menyusul regulasi itu, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jember mendata calon jamaah umrah yang telah mengikuti vaksinasi. Meliputi jenis vaksin yang digunakan dan sudah berapa kali melakukan. Jika nantinya vaksinasi booster sudah didapatkan, maka calon jamaah umrah yang telah lama menunggu mendapat prioritas.
“Jika sampai saat dibukanya umrah nanti Sinovac tidak diperkenankan, Kemenag masih mengupayakan komunikasi dengan Kementerian Kesehatan untuk vaksinasi jenis booster,” ungkap Ahmad Tholabi, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Jember, kemarin (28/9).
Hingga saat ini, pendataan masih berjalan pada tiga penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). Masing-masing PPIU memiliki jumlah jamaah yang berbeda. Ada yang 160 jamaah, juga 200 jamaah. Jumlah tersebut merupakan calon jamaah umrah yang terdaftar pada PPIU kantor pusat dan cabang. Mayoritas dari mereka telah melakukan vaksinasi jenis Sinovac.
Tingginya jumlah jamaah yang mendapatkan vaksi Sinovac itu, lanjut Tholabi, karena mereka mengikuti vaksinasi bukan sebagai calon jamaah umrah. Namun, sebagai masyarakat pada umumnya. “Dan hanya sebagian kecil saja yang pakai AstraZeneca,” ungkapnya.
Persiapan lain yang telah dilakukan oleh Kemenag, Tholabi menambahkan, pihaknya akan menyediakan tempat isolasi mandiri di tanah air ketika memang dibutuhkan dan disyaratkan oleh Pemerintah Arab Saudi. “Jika memang dibutuhkan tempat isolasi, kami bisa sediakan di asrama haji,” ungkapnya.
Jika nantinya diharuskan menggunakan vaksinasi booster, maka jamaah umrah diharapkan bisa menjalani vaksinasi kembali jika vaksinnya sudah tersedia. Kemenag akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan daerah.
Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih
Editor : Ivona