Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gas Elpiji Jember Sering Langka, Pakar: Waktunya Beralih ke Energi Listrik

Ivona • Senin, 20 September 2021 | 20:41 WIB
“Mestinya kita sudah beralih ke energi listrik. Nanti akan lebih murah,
“Mestinya kita sudah beralih ke energi listrik. Nanti akan lebih murah,
JEMBER, RADARJEMBER.ID – "Siapa punya tabung gas? Tak beli!" ucap Soleh dengan Bahasa Madura. Siang itu, lelaki 50 tahun ini sedang kalang kabut mencari isi ulang tabung gas 3 kilogram, sehingga dia bertanya kepada para tetangganya. Siapa tahu ada yang punya dan bisa dibeli. Sebab, sedari pagi, dia sudah mendatangi pangkalan LPG dan beberapa toko kelontong di kampungnya di wilayah Kecamatan Puger. Tetapi, stoknya lagi kosong.

Namun, semua tetangga yang ditengarai punya cadangan gas elpiji lebih dari satu tak menggubris Soleh. Mereka juga khawatir karena penjual elpiji yang saban hari membawa tabung gas dengan kendaraan roda tiga itu sudah dua pekan belakangan tak pernah lagi mampir ke rumah warga. Terakhir mampir, tabung yang bisa ditukarkan pun terbatas.

Nur, nama penjual elpiji yang sering berkeliling itu, memasang harga yang lebih miring dari toko dan agen lain. Satu tabung isi ulang harganya Rp 17 ribu. Walaupun gas melon langka dan beberapa toko sudah membanderol dengan harga lebih tinggi, tapi Nur tetap menjualnya dengan harga Rp 17 ribu. Inilah yang membuat Nur menjadi idola bagi ibu-ibu. Kedatangannya selalu dinanti.

Di daerah ini, tabung gas tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan memasak. Tapi juga untuk irigasi sawah. Para petani sudah banyak yang beralih menggunakan gas elpiji karena dianggap lebih hemat ketimbang menggunakan bensin atau solar untuk bahan bakar mesin penyedot air. Petani juga sudah membikin perhitungan. Kesimpulannya, menggunakan bahan bakar gas lebih ekonomis.

Pakar energi terbarukan Politeknik Negeri Jember (Polije), Dedy Eko Rahmanto, menjelaskan, sebenarnya dalam jangka panjang kelangkaan gas elpiji itu bisa diatasi jika masyarakat mau beralih pada energi listrik. Khususnya untuk kebutuhan pertanian. Menurutnya, daerah lain seperti Ngawi, Madiun, dan Sragen telah menggunakan energi listrik sejak bertahun-tahun lamanya. "Mestinya kita sudah beralih ke energi listrik. Nanti akan lebih murah," kata dosen jurusan teknik itu.

Dosen lulusan Fakultas Pertanian Universitas Jember ini memberikan gambaran perhitungan pembiayaannya. Operasional sebuah motor listrik yang menggunakan daya listrik 3PK yang setara dengan 2.200 watt, setiap jamnya akan menghabiskan 2,25 kWh. Sedangkan 1 kWh listrik dibanderol dengan harga Rp 1.500. "Jadi, satu jam cuma bayar Rp 3.500. Kalau pakai bensin mungkin satu jam bisa habis satu liter," ungkapnya.

Kendalanya, kata dia, adalah ada tidaknya kehendak politik dari pemerintah daerah untuk memulai itu, serta mau tidaknya PLN memasang instalasi listrik. Gambarannya, petani bisa membuat bangunan kecil di area persawahan seluas 1x1,5 meter untuk pompa air. Untuk mengoperasikan mesin air ini, masyarakat hanya perlu mengisi token listrik.

Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan energi terbarukan. Misalnya, membuat pompa air dengan tenaga surya. Namun, investasinya cukup mahal. Yaitu berkisar Rp 30 juta untuk penggunaan 20 tahun. "Balik modalnya jangka panjang. Tapi lebih ramah lingkungan," imbuhnya.

Mestinya, dia menekankan, pemerintah daerah mulai membuka kemudahan bagi petani untuk menggunakan akses listrik. Atau setidaknya diberikan pemahaman tentang penggunaan tenaga listrik sebagai sumber energi pompa air yang digunakan mengairi sawah. Sehingga subsidi gas tidak sampai disalahgunakan untuk keperluan pengairan agar penggunaannya bisa lebih tepat sasaran.

Reporter : Dian Cahyani

Fotografer : Dian Cahyani

Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona
#Headline