Hal itu kemudian menginspirasi Hendry Sen untuk menggagas usaha pembuatan sandal kulit sendiri. Langkah itu dimulai sejak Februari tahun lalu, dibantu istri dan anaknya.
Hendry menuturkan bahwa dirinya pernah bekerja sebagai desainer di perusahaan sandal dan sepatu kulit di Jakarta, sejak tahun 1988 sampai 2014 lalu. Berbekal pengalaman itu, dia mencoba peruntungan memproduksi sandal kulit sendiri. “Tidak sekadar menjual, namun sekaligus ingin menumbuhkan kecintaan warga Jember terhadap barang dari kulit, sehingga semua kalangan bisa memakai,” kata Hendry.
Dirinya memiliki cara tersendiri untuk memasarkan sandal tersebut. Yakni dengan menempatkan barang dagangan di kaca pintu belakang mobil mulai pukul 10.00 hingga sore hari. Selain itu, untuk lebih menarik perhatian pengendara kendaraan bermotor, Hendry sengaja memasang sandal kulit berukuran raksasa.
Filia, istri Hendry, menuturkan, proses pembuatan sandal kulit dilakukan dari pagi sampai malam hari di rumahnya. Harga sandal tersebut bervariasi, bergantung pada bahannya. Misalnya dari kulit asli, semi kulit, kulit sintetis, dan oscar. “Harga paling murah Rp 100 ribu dan termahal Rp 210 ribu,” imbuhnya.
Menurut dia, umumnya sandal kulit dibuat menggunakan bahan berkualitas. Selain itu, bergaransi dan memiliki jaminan servis mudah dan murah. “Hal ini untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tidak heran orang kecil seperti pedagang kaki lima tertarik untuk membeli sandal kulit ini, dan suami memiliki keinginan kuat sandal kulit sebagai ikon Jember,” terang Filia.
Reporter : Winardyasto
Fotografer : Winardyasto
Editor : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Ivona