Sebelum deras, terlihat beberapa warga membopong sebuah karung. Mereka sepulang dari kebun atau hutan. Mereka mengenakan caping dengan pakaian kusut berlengan panjang. "Ini bawa kopi, baru metik tadi," kata seorang perempuan baya.
Jawa Pos Radar Jember kemudian mendatangi rumah salah seorang ibu yang hampir 90 persen bangunan rumahnya terbuat dari kayu. Tak ada barang mewah di sana. Hanya terlihat lampu, meja, kursi, perabotan dapur, dan tumpukan kopi yang telah dijemur. "Ibu setiap harinya, ya, begini ini," tuturnya.
Wanita itu bernama Sulastri. Ia tinggal bersama suaminya yang kala itu belum balik dari kebun. Sebenarnya, dia mengaku punya anak, namun turun dari tempat itu dan bersekolah bersama saudaranya, di daerah kecamatan. Sebagai informasi, jarak rumah itu dari Perkebunan Sentol saja sekitar 12 kilometer dengan waktu tempuh setengah jam. Padahal itu masih satu Dusun Glengeseran, Desa Suci. "Di daerah ini dikenalnya warga itu Dusun Hadikusuma, ada pula menyebut Dusun Jeruken," katanya melanjutkan.
Entah apa maksud nama dusun itu, Sulastri sendiri juga tidak begitu mengetahui. Yang jelas, ia dan beberapa warga lainnya telah tinggal dan mendiami wilayah itu sudah cukup lama. Sejak masih sekolah dasar, dia mengaku, sudah tinggal di situ. "Sejak zaman Pak Harto sudah di sini," ucap nenek 50 tahun ini.
Meski daerah itu sudah teraliri listrik, namun tetangga mereka tinggal dengan jarak antarrumah cukup jauh. Paling dekat sekitar 10 meter. Sisanya di sebelah ujung, di bagian lain yang jaraknya sampai ratusan meter. Meski ada beberapa di dekat tempat tinggal Sulastri, namun kosong dan sudah lama ditinggal penghuninya. Kata dia, banyak warga sana yang setiap tahun turun ke bawah, ke daerah Desa Suci atau Desa Serut. "Paling hanya tersisa 10 KK di sini," imbuhnya.
Lokasi daerah warga ini berada tepat paling ujung atas. Sebab, lebih ke atas sudah tidak ada jalan. Kalaupun ada, itu masuk ke daerah hutan Pegunungan Argopuro. Beruntungnya, sinyal seluler masih ada di kawasan itu. Itu pun baru bisa untuk satu provider ternama saja. Dan sepertinya kawasan tersebut didominasi orang-orang tua. Mereka jarang menggunakan ponsel.
Tak berselang lama, terlihat bapak-bapak yang menghentikan laju motornya. Rupanya, baru pulang dari kebun, memetik kopi, karena terlihat membawa sejumlah karung. Lelaki bernama Padmo itu mengisahkan bagaimana warga hidup di sana. "Dari hasil kebun ini kan banyak. Ada ubi juga," tuturnya.
Biasanya, kata dia, warga memanfaatkan hutan atau kebun di sekitarnya itu bercocok tanam. Jagung, padi, dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Sementara, untuk keperluan air, mereka memasang selang sangat panjang yang dialirkan langsung dari mata air di daerah puncak. "Tapi, di sini tidak seramai dulu. Warganya tinggal sedikit karena banyak yang sudah turun," jelasnya.
Akses menuju kawasan itu cukup sulit. Medan terjal dan bebatuan. Ditambah tebing dan jurang yang siap menemani perjalanan bagi siapa pun yang hendak menuju lokasi ini. Jika berniat ke sana, lebih baik menggunakan motor trail atau modifikasi. Dan tak hanya kendaraan, tapi mental juga perlu disiapkan. Sebab ada berbagai cerita di perkampungan itu, hingga rumor mistis. Penasaran? Cobalah!
Reporter : Maulana
Fotografer : Maulana
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona