Potensi alam sekitar pesantren memang penuh dengan tanaman kopi. Kondisi inilah yang membuat pengasuh pesantren, Kiai Zainul Wasik, memanfaatkan potensi tersebut untuk menghidupi santrinya. Para santri dibebaskan dari biaya pendidikan dan iuran. "Siapa pun di sini yang mau belajar, kami persilakan. Tanpa biaya. Asalkan bersungguh-sungguh. Di sini kami juga ingin mengajarkan kemandirian kepada santri agar mereka kreatif memanfaatkan potensi yang ada demi bertahan hidup," ungkap kiai yang akrab disapa Ustad Danil itu.
Mayoritas para santri di pesantren ini merupakan anak-anak dari buruh migran. Menurut Ustad Danil, dirinya tak hanya hadir sebagai guru yang memberi ilmu, tapi dia juga ingin hadir sebagai sosok orang tua bagi para santrinya. "Tentu mereka butuh perhatian orang tua. Dan kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu dengan bimbingan ilmu dan bekal kemandirian itu," imbuhnya.
Selain memperhatikan anak-anak sekitar, terutama para santrinya, Ustad Danil juga memperhatikan nasib tetangga di sekitar pesantren. Dia juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan memberi edukasi dan membeli hasil panen kopi milik mereka. Masyarakat Slateng memang rata-rata bermata pencarian sebagai petani kopi. Dan hamparan perkebunan kopi di desa yang memiliki udara sejuk ini begitu luas.
Menurutnya, biji kopi (green bean) hasil panen masyarakat sekitar dijual dengan harga murah kepada para tengkulak. Para petani di desa itu juga tak punya akses, bahkan tak tahu harus menjual hasil panennya ke mana. "Ada yang sampai didatangi ke rumah-rumah petani. Para tengkulak itu memberi uang (modal) kepada petani, tapi dengan syarat hasil panen harus dijual ke mereka, meski dengan harga murah," tuturnya.
Ketidakberdayaan petani kopi didasari oleh mahalnya modal perawatan tanaman kopi. Khususnya dalam pembelian dan ketersediaan pupuk. Sebagai sosok kiai yang peduli lingkungan, Ustad Danil mengajak warganya agar tak lagi menjual hasil panen kepada para tengkulak. Dia membeli hasil panen itu dengan harga sesuai standar di pasaran. "Kualitas kopi kami bagus, karena warga di sini berpengalaman dalam perawatan kopi. Jadi, eman kalau kopi yang bagus itu dijual dengan harga murah, bahkan jauh dari harga pasaran," katanya.
Bukan tak punya lahan perkebunan, Ustad Danil juga dikenal sebagai petani kopi yang andal. Hasil panen miliknya dan milik warga yang telah ia beli sebelumnya, akhirnya dia kelola sendiri dengan melibatkan para santri. Di sinilah para santri mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal ketika mereka bermasyarakat nantinya. "Setelah panen, kami ajak para santri untuk mengolah biji kopi itu. Mulai dari proses sortir, roasting, pengemasan, penjualan, dan kami juga memberi pelatihan barista kepada mereka," imbuhnya.
Produk kopi dari pesantren di wilayah Jember Timur itu pun tak hanya laku di wilayah Jember. Berkat banyaknya relasi dan ilmu teknologi, bahan minuman hitam pekat itu juga dipesan hingga luar pulau. "Penjualannya ada yang manual, di toko-toko atau warung. Kemudian, juga ada yang dijual melalui online dan dibantu oleh keponakan," pungkasnya.
Reporter : Delfi Nihayah
Fotografer : Pesantren Kopi For Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona