Oleh sebab itu, petugas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Jember melakukan normalisasi sejak beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung, diketahui endapan lumpur bercampur sampah di saluran drainase Jalan Mastrip mencapai lebih dari 50 bak pikap.
“Kalau berapa kali pikap mengangkut endapan lumpur campur sampah, ya puluhan kali, bolak-balik. Kalau 50 kali ya lebih,” ucap Suratno, Korwil Kota Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Jember.
Dia mengaku, pengerukan drainase di Jalan Mastrip tersebut cukup dalam. “Mengapa sering banjir, karena drainasenya terjadi pendangkalan,” terangnya.
Menurut dia, untuk melakukan pengerukan drainase tersebut petugas juga butuh tenaga ekstra dan waktu cukup lama. Sebab, di sejumlah titik drainase ada yang ditutup permanen. “Ya lamanya itu karena drainasenya sudah tertutup beton. Kalau semua terbuka bisa cepat,” paparnya.
Ditambah lagi, setiap penutup drainase dari beton tersebut tidak diberikan lubang pembuangan air. “Jadi, kalau hujan, air yang berada di aspal sulit keluar. Sehingga terjadi genangan air,” katanya. Adanya genangan air itulah yang membuat jalan aspal cepat rusak.
Pihaknya menyarankan setiap adanya pembangunan dari pemilik toko ataupun rumah untuk menutupi saluran drainase dengan beton semen disediakan bak kontrol. Umumnya bak kontrol itu terbuat dari besi, sehingga bisa memantau saluran drainase dan membantu dalam proses pembersihan. “Seharusnya setiap tiga meter sekali itu harus ada bak kontrol, bila semuanya ditutup beton,” imbuhnya.
Dalam pembersihan sejumlah saluran drainase di wilayah kota, tidak hanya ditemukan sampah atau botol minuman plastik. “Bantal, guling, itu juga ada. Makanya mampet,” pungkasnya.
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Alvioniza