Kepala Depo Lokomotif KAI Daop 9 Jember Hariyono menjelaskan, Depo Lokomotif ini merupakan tempat singgahnya loko kereta untuk menjalani perawatan. Baik perawatan harian maupun perawatan bulanan. “Dulu, di sini juga melayani perawatan gerbong kereta. Namun, sekitar 1986 sudah dipisah menjadi dua depo. Untuk lokomotif di Jember, sedangkan gerbong kereta di Banyuwangi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Menurutnya, ada sejumlah lokomotif yang kerap menjalani perawatan di sana. Di antaranya loko kereta Pandanwangi, Tawang Alun, Sritanjung, Mutiara Timur PP, Probowangi, Wijayakusuma, Ranggajati, dan Logawa. Hariyono menuturkan, depo ini sudah melalui perubahan lokomotif dari masa ke masa. “Mulai lokomotif bermesin uap, hidrolik, hingga lokomotif elektrik,” paparnya. Jadi, depo ini menjadi saksi peralihan tiga generasi lokomotif.
Pelaksana Harian (Plh) Humas KAI Daop 9 Jember Tohari menambahkan, keberadaan lokomotif mesin hidrolik menjadi elektrik itu sekitar 2009 hingga 2010 lalu. Namun hingga kini, penampakan lokomotifnya masih ada di depo. Karena mesin dan suku cadang yang tak diproduksi lagi, maka secara bertahap lokomotif beralih menggunakan mesin elektrik.
Data terkait dengan sejarah depo tersebut, Tohari belum bisa menjelaskan secara mendetail. Sebab, dokumen-dokumennya ada di Bandung. “Pastinya, depo yang dibuat pada zaman kolonial ini lebih dulu dibuat daripada relnya,” candanya. Meski begitu, masyarakat Jember bisa saja berkunjung ke depo asalkan dengan syarat dan tujuan yang harus dipenuhi.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Isnein Purnomo
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri