Di antaranya Pura TirthaSudha Mala yang terletak di Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, dan Pura Eka Prasetya Satiti Dharma di Desa Panggul Melati, Kecamatan Gumukmas. “Selain itu, ada pura yang berdiri di markas tentara,” ulas salah seorang dosenekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember itu. Yakni Wira Satya Dharma di Yonif 509 Sukorejo, Pura 515 Tanggul, serta Pura Brigif 09.
Wayan menerangkan bahwa pura itu dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah mandala utama, yakni tempat yang digunakan untuk sembahyang. Untuk masuk ke sana, seseorang harus menyucikan diri dulu. “Perempuan yang berhalangan dilarang masuk,” lanjutnya.
Kedua adalah madya mandala. Zona tengah itu digunakan untuk beraktivitas dan sebagai fasilitas pendukung. “Bisa juga digunakan untuk melaksanakan acara-acara sosial,” ucap warga kelahiran Tabanan, Bali, tersebut. Dan ketiga adalah niste mandala. Tempat paling luar itu digunakan untuk parkir, kamar mandi, penginapan, hingga tempat untuk memelihara hewan.
Sementara itu, pura digunakan untuk banyak kegiatan keagamaan. Mulai dari Galungan, Kuningan, hingga persiapan Nyepi. Hari raya Galungan biasa dirayakan umat Hindu setiap 210 hari dengan menggunakan perhitungan kalender Bali. Sementara itu, hari raya Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan. Kata Kuningan memiliki makna kauningan yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.
“Untuk Nyepi, di sini juga diadakan,” katanya. Para umat dianjurkan untuk berpuasa selama 24 jam. Sementara untuk kegiatan melasti alias sesuci laut, dia mengungkapkan bahwa pihaknya melaksanakan kegiatan itu di Pantai Paseban. “Mulai 1983, ada umat di empat kabupaten yang ke Paseban,” ujarnya. Yakni, Kabupaten Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Isnein Purnomo
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri