Sosok Nyai Lilik, begitu ia disapa, kontan meruntuhkan anggapan masyarakat selama ini yang telanjur berpandangan patriarki. Bahwa pengasuh ponpes yang santrinya laki-laki, harus dipimpin oleh seorang pria. Lalu, bagaimana sepak terjang Nyai Lilik?
Kepada Jawa Pos Radar Jember, wanita kelahiran Mei 1949 tersebut mengaku tidak menyangka bahwa dirinya bakal menjadi pengasuh ponpes. Dulu, dia bercerita, tanah yang dibangun pondok itu dibeli oleh KH Shodiq Mahmud, mendiang abahnya, pada 1990 silam. Lalu, mulai beroperasi sebagai Ponpes Al-Jauhar setahun berikutnya, sejak 1991.
“Wasiat pemilik tanah sebelum dibeli dulu, ingin tanahnya dibeli oleh seorang kiai yang paham pendidikan. Jadi pas. Karena abah adalah salah seorang dosen di Fakultas Hukum Unej,” katanya.
Dibantu oleh KH Sahilun A Nasir, almarhum suami Nyai Lilik, dan para pengurus lain, ponpes pun mulai menerima santri. Namun, di tengah perjalanan, dia ditinggal sang abah dan suaminya. “Abah meninggal pada 1998, sedangkan suami saya menyusul pada 2011,” terangnya. Mulai saat itu, dia harus menjadi pengasuh pondok yang dihuni oleh santri laki-laki sendirian.
“Sebenarnya, saya punya anak yang sudah mempunyai keluarga kecil di Magelang,” terang wanita yang juga pernah menjadi pengajar di Fakultas Hukum Unej itu. Namun, dia mengaku tidak tega dan enggan memaksa anaknya menjadi pengasuh pondok, meneruskan abah dan suaminya. Jadi, dia yang turun tangan sendiri untuk melanjutkan semangat abah dan suaminya dalam membangun karakter para santri.
Kali pertama menjadi pengasuh merupakan hal yang sulit baginya. Mengingat, dia tinggal sendirian dan harus menjadi pengasuh untuk ratusan santri. Bahkan, hingga kini ada yang masih sulit dia lakukan. Yakni, saat membangunkan anak-anak untuk salat Subuh.
Sebabnya, kata Nyai Lilik, mereka harus bangun sebelum waktu Subuh untuk azan dan lainnya. Karena itu, mau tidak mau dirinya harus berkeliling 25 kamar untuk membangunkan para santri sambil mengetuk kamar mereka masing-masing. “Hanya itu saja sih yang kerepotan. Sedangkan yang lain saya enjoy,” candanya.
Menjadi pengasuh pondok sendirian selama 10 tahun atau satu dekade, dia tidak pernah merasa keberatan. Sebab, wasiat abah menjadi motivasi baginya dalam mengasuh para santri setiap hari. Dia menambahkan bahwa mendiang sang abah ingin membuat para mahasiswa yang mondok di Al Jauhar menjadi santri meski belum pernah belajar agama di pondok sebelumnya. “Fokus saya meneruskan wasiat abah. Setidaknya, anak-anak di sini bisa salat dan tahlil saat pulang ke kampung halaman masing-masing,” tuturnya.
Sementara, untuk pengembangan ilmu lain, dirinya mengembalikan kepada para santri masing-masing. Meski begitu, ada kegiatan lain yang bertujuan untuk mengembangkan bakat para santri. Di antaranya, tahfiz Alquran, diskusi ilmiah, hadrah, pengembangan berbagai olahraga, keterampilan wirausaha, pengembangan jurnalistik, dan kaligrafi. Untuk bidang jurnalistik, misalnya, beberapa alumni pesantren ini ada yang bekerja menjadi jurnalis di media nasional kenamaan.
Menurut Nyai Lilik, banyak keterampilan yang berujung pada kesuksesan para alumni. Pernah suatu kali, dia bercerita, ada alumni yang disuruh mengaji saat tes di salah satu perusahaan BUMN. Dan dia lolos. Padahal, kali pertama masuk pondok, santri tersebut tidak bisa mengaji sama sekali. Mendengar kabar tersebut, dia merasa bangga. “Sebab, ada hikmah yang bisa dibawa para santri saat lulus,” ujarnya.
Selain itu, seperti arti dari Aljauhar yang berarti ‘mutiara’, Nyai Lilik juga berharap, para santrinya kelak menjadi orang sukses dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Isnein Purnomo
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri