Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Miroso, Muslim Juru Kunci Tempat Ibadah Tiga Agama

Safitri • Selasa, 9 Februari 2021 | 22:44 WIB
MERASA NYAMAN: Miroso, juru kunci Klenteng yang bekerja selama 42 tahun sedang mempersiapkan perayaan tahun baru Imlek 2021.
MERASA NYAMAN: Miroso, juru kunci Klenteng yang bekerja selama 42 tahun sedang mempersiapkan perayaan tahun baru Imlek 2021.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Selama 42 tahun lamanya, Miroso menjadi penjaga Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) atau Klenteng Pay Lian San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti. Ia merupakan saksi mata pembangunan tempat peribadatan tiga agama tersebut.

Sebagai seorang muslim, lelaki yang kerap disapa Sugik ini, mengabdikan dirinya demi kenyamanan beribadah umat agama lain. Bersama istrinya, dia menjalankan tugasnya dalam menjaga dan membersihkan Klenteng setiap hari.

Baginya, tak mudah menjadi kepercayaan banyak orang. Terutama di tempat yang dianggap suci bagi umat yang beribadah di dalamnya. Namun, hal itu bukan beban yang memberatkan hidupnya. Bahkan, setiap pengalaman yang dijalani, dia anggap sebagai pelajaran baru.

“Selama 42 tahun ini, setiap hari saya mendapat banyak pelajaran. Dan saya menemukan kenyamanan saat membantu membersihkan perlengkapan ibadah umat Tionghoa,” tuturnya.

Perayaan tahun baru Imlek, masih menjadi momen berharga bagi Sugik. Sebab, pada hari tersebut ia dapat bersilaturahmi dan berbagi senyum dengan banyak orang dari berbagai agama.

Biasanya, satu minggu sebelum perayaan, dia akan sibuk mempersiapkan acara. Mulai dari mengecat Klenteng, memasang lampion, menyucikan altar, mengepel lantai, dan menata lilin-lilin besar. Dia juga dibantu sang istri saat perayaan tiba.

“Saya maksimal di Klenteng, kalau ibunya yang bagian masak-masak di dapur untuk menyiapkan hidangan buat umat dan pengunjung yang datang,” paparnya.

Ayah dua anak ini sengaja diangkat menjadi juru kunci oleh tantenya, Ton Hua Sen yang merupakan pendiri Klenteng pada tahun 1954 silam. Sugik sempat mengundurkan diri beberapa bulan setelah sepuluh tahun dia bekerja. Hal itu dia lakukan karena merasa bahwa gaji yang ia dapatkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Namun, setelah ia mencoba keluar dari Klenteng, ternyata dia menyadari bahwa dia harus meningkatkan rasa bersyukurnya. Sehingga belum setahun dia bekerja di tempat lain, akhirnya dia kembali menjadi penjaga di Klenteng lagi.

“Sudah nyaman di sini. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya bertahan bahkan sampai anak-anak saya berkeluarga semua,” katanya.

Wakil Ketua Klenteng Jap Swie Liong mengatakan, meski rumah sang juru kunci terletak di sebelah kiri bangunan Klenteng, tapi hampir 24 jam dia menghabiskan waktunya di Klenteng.
Pria yang bernama lain Hery Nofem Stadiono ini juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Sugik, sebab ia tak pernah mengeluh meski diberi tugas berat olehnya.

“Yang namanya penjaga kan pasti di malam hari dia juga tidak tidur pulas. Saat kami butuh tenaganya secara tiba-tiba, dia selalu datang dan tak keberatan menjalaninya,” pungkasnya.

Reporter: mg1
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Headline