Yenny Dhokhikoh, dosen Program Studi Sumber Daya Air dan Lingkungan Pascasarjana Unej, menguraikan, banjir yang terjadi di Desa Wonoasri memang bisa disebabkan berbagai faktor. Selain karena meningkatnya intensitas hujan yang hampir terjadi di semua wilayah, juga dimungkinkan adanya aktivitas di hulu sungai hingga menyebabkan meluap. "Ketika ada sesuatu yang terjadi di bawah (hilir), pasti ada yang salah dari atasnya (hulu)," ucapnya.
Dosen yang juga pengajar etika lingkungan itu menilai, dugaan itu bisa bermacam. Bisa karena aktivitas penebangan liar di hutan, bisa pula karena kedangkalan wilayah akibat pemadatan jumlah penduduk. "Kalau lingkungan penduduk kian padat, maka memungkinkan tanah turun sekian sentimeter ke bawah," ulasnya.
Apalagi, kondisi geografis Desa Wonoasri memang berada di antara Desa Curahnongko dan Desa Andongrejo. Sementara Desa Andongrejo dan Desa Curahnongko menjadi daerah yang paling dekat kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).
Lantas, kenapa genangan tertinggi terjadi di Desa Wonoasri? Yenny menduga, besar kemungkinan tanah di Desa Wonoasri mengalami penurunan, seperti sebuah cekungan. Sehingga saat ada luapan air, seketika ngendon dan menyebabkan banjir paling parah. "Jika benar demikian kondisinya, kita harus mulai memahami kondisi lingkungan kita. Serta menjaga kawasan yang menjadi resapan air. Dan tak kalah penting kawasan hutannya," pungkasnya.
Hal serupa juga diungkapkan Parmuji, Ketua World Cleanup Day International (WCDI) Jember. Menurut dia, peristiwa banjir di Tempurejo mengingatkan warga Jember terhadap musibah banjir yang menerjang kawasan Panti pada 2006 silam. Banjir Panti juga disebabkan adanya aktivitas penebangan pohon di hutan. "Ini harus jadi pelajaran, bahwa setiap kali bencana, pasti ada yang salah dengan cara kita memperlakukan alam. Karenanya, kita harus lebih bersahabat dengan alam," ucapnya. Editor : Safitri