Luapan air ini menggenangi lima RT di tiga RW. Yakni Gang I RT 001 dan 002 di RW 004, Gang IV RT 007 dan 008 di RW 003, dan Gang V RT 006 RW 001. Semuanya berada di Dusun Kraton, Desa Wonoasri. Sebanyak 78 kepala keluarga (KK) di tiga RW tersebut terdampak.
Awalnya, hujan deras yang terjadi sejak sore hingga malam itu mengakibatkan banjir di Dusun Krajan, Desa Curahnongko. Saat itu, air mulai naik sedikit demi sedikit. Warga yang ada di ujung selatan, dekat perkebunan milik PTPN 12 Kebun Kotta Blater, melihat air sungai yang mulai naik.
Warga juga melihat tumpukan sampah yang hanyut dari arah selatan ke utara. Mereka sudah menduga bakal terjadi banjir susulan. Sebab, banyaknya sampah yang hanyut bisa menjadi tanda kalau air bakalan meluap ke rumah-rumah penduduk. Rupanya dugaan itu benar. “Terlihat kalau air mulai naik setelah banyak sampah terseret di jalan menuju utara (rumah warga, Red),” kata Fajar, 45, warga Dusun Kraton.
Setelah ditunggu beberapa menit, air ternyata semakin naik dan warga mulai panik. Karena mereka trauma dengan kejadian banjir sebelumnya yang terjadi Kamis (14/1) lalu. “Sebab, paginya air biasa-biasa saja. Namun air terus naik mulai sore hingga malam hari,” tutur Fajar.
Anggota Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Jember yang saat itu melakukan patroli dari gang ke gang di Dusun Kraton, mengetahui air mulai naik. Petugas melihat, ada empat warga yang dengan kesadarannya sendiri mengungsi dengan berjalan kaki. Mereka adalah Yeti (27), Faiz (4), Samira (50), dan Andik (15). Semuanya masih satu keluarga.
Sambil menggendong putranya, Yeti mengungsi ke rumah keluarganya yang lokasinya lebih aman. “Saya trauma dengan kejadian banjir sebelumnya. Jadi, sekeluarga memilih mengungsi,” kata Yeti.
Anggota Satpolair Polres Jember yang sedang melakukan patroli di beberapa gang terdampak banjir akhirnya mengevakuasi keempat warga tersebut menggunakan mobil patroli. Karena air semakin lama bertambah naik, maka petugas mengambil perahu karet yang disiapkan untuk mengevakuasi warga.
“Banjir yang terjadi pada malam hari mengakibatkan warga semakin panik. Bahkan, setelah melihat air terus naik, warga langsung mengemas barang yang ada di rumahnya untuk dinaikkan ke atas meja,” ungkap Fajar.
Dia pun menyampaikan terima kasih kepada para petugas dan relawan kebencanaan yang tanpa lelah membantu warga terdampak. “Saya sendiri baru tahu kalau air naik lagi setelah mendengar suara warga yang dievakuasi,” tuturnya.
Saat mengevakuasi warga, perahu karet petugas sampai bolak balik. Hal ini karena warga panik dan takut air datang tiba-tiba. Seperti yang disampaikan Ponari dan Nisa, ibunya. Keduanya langsung bersedia saat petugas mengevakuasi mereka ke posko penampungan sementara.
“Saya kapok dan trauma akibat banjir Kamis lalu. Bahkan, ketika air mulai mengepung halaman rumah dan masuk ke dalam, saya langsung naik ke langit-langit rumah,” kata Ponari, di sela-sela proses evakuasi.
Sementara itu, Kepala Satpolair Polres Jember Iptu M Na’i mengatakan, saat itu anggota sedang melakukan patroli di tempat yang paling rendah. Ternyata di tengah jalan, terlihat air yang membawa sampah di jalan dusun tersebut. “Setelah ditunggu lama, ternyata air mulai naik,” jelasnya.
Melihat kondisi demikian, dirinya langsung memerintahkan kepada anggota agar segera melakukan evakuasi warga. Terutama yang halaman rumahnya mulai dipenuhi air. “Alhamdulillah, warga yang berada di pinggir sendiri mau dievakuasi ke tempat aman. Yakni ke Balai Desa Wonoasri,” pungkasnya.
Evakuasi warga yang rumahnya terdampak banjir susulan bukan hanya dilakukan anggota Satpolair Polres Jember, tapi juga dilakukan oleh Tim Sar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember dengan menggunakan perahu karet.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, banjir susulan ini tak hanya menggenangi rumah warga, tapi juga enam ruang kelas SDN Wonoasri 01. Enam ruang kelas yang terendam ini lebih parah dari genangan sebelumnya. Ruang kelas terparah yakni kelas 1, 2, dan 3. Tiga ruang kelas itu berada di tempat yang paling rendah.
“Banjir Kamis lalu, genangan air di dalam kelas lebih rendah dari sekarang," kata Suyit, Kepala SDN Wonoasri 01. Padahal saat air sempat surut, Suyit menambahkan, pihaknya sudah melakukan bersih-bersih. Endapan lumpur di dalam kelas sisa banjir telah dibersihkan. “Untuk sementara dibiarkan dulu, karena takut ada banjir lagi," pungkasnya. Editor : Safitri