Berdasarkan pengamatan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, bendungan yang mampu memasok 14 ribu hektare persawahan ini mulai menunjukkan adanya kenaikan volume air atau limpasan sejak awal musim hujan atau Desember lalu. Rata-rata, kenaikannya mencapai 1-2 meter setiap harinya.
Penjaga pintu air (PPA) Sungai Bedadung Rowotamtu, Pujang Usiwu menjelaskan, meskipun selama sepekan kemarin mulai ada kenaikan signifikan, namun hal itu diyakininya masih aman. Sebab, selama indikator limpasan masih menunjukkan warna hijau, berarti masih berstatus aman. Sementara di warna kuning artinya sudah siaga. Dan jika sudah merah, maka berstatus darurat. "Limpasan tertinggi baru tercatat 2,40 meter di indikator warna kuning dasar. Jadi, statusnya masih siaga satu," jelasnya.
Kendati berstatus siaga, lanjut Pujang, selama ini bendungan Sungai Bedadung cukup memiliki kapasitas besar, yang menampung hilir dari tiga sungai sekaligus. Yaitu dari Sungai Panti, Sungai Kali Putih, dan pecahan Sungai Jompo. "Selama ini, baru banjir bandang di Panti pada 2006 lalu yang membuat daya tampung bendungan ini penuh dan meluber. Selain itu masih aman, di status siaga," imbuhnya.
Meskipun memiliki kapasitas volume air yang jumbo, namun sejumlah warga di sekitar Sungai Bedadung mengaku tetap harus waspada. Sebab, berdasarkan catatan peristiwa tahun sebelumnya, tiap kali musim hujan, Sungai Bedadung selalu menunjukkan kenaikan volume air yang mengkhawatirkan.
"Sungai Bedadung ini air buangan, mengarah ke laut. Jadi, musim-musim hujan seperti ini pasti besar airnya. Kadang menerjang sebagian permukiman warga pinggiran sungai, tapi kecil," imbuh Suheri, warga Desa Gumelar, yang tinggal di pinggir Sungai Bedadung. Editor : Safitri