Dari jumlah itu, enam di antaranya lolos uji screening dan sisanya belum memenuhi syarat. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember mengumpulkan 11 kantong dari para pendonor tersebut. “Sejak 7 hingga 11 Januari, stok plasma konvalesen ada sebanyak 11 kantong. Sejumlah 10 kantong sudah keluar dan tersisa satu kantong dengan golongan darah A,” terang EA Zaenal Marzuki, Ketua PMI Jember.
Donor plasma konvalesen ini digunakan untuk terapi bagi pasien Covid-19. Saat ini, model terapi tersebut mulai dikembangkan untuk menyembuhkan pasien positif di Jember. Utamanya, bagi mereka yang tengah menjalani perawatan di RSD dr Soebandi.
Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSD dr Soebandi dr Arswendo menjelaskan, jumlah pendonor yang masih minim ini disebabkan beberapa kendala. Yakni banyak calon pendonor dari penyintas Covid-19 yang masih trauma. Juga ada pendonor dengan kadar immunoglobin G (IgG) SARS-CoV-2 rendah atau negatif, sehingga mereka tidak memenuhi syarat.
“Kadang, beberapa pendonor penyintas masih mengalami gejala sisa seperti sesak, batuk, diare, mual, dan pusing. Bahkan, ada pula yang takut jarum dan belum memahami plasmaferesis,” terangnya.
Arswendo menerangkan, terapi plasma konvalesen ini melewati beberapa tahap. Setelah melalui uji laboratorium, plasma konvalesen bakal diberikan sebanyak dua kali kepada pasien Covid-19 dengan tingkat sedang atau berat di awal sakit. “Takarannya, yakni 200 mililiter per kantong. Fungsinya untuk meningkatkan antibodi atau pertahanan tubuh dan menurunkan jumlah virus,” urainya.
Menurut dia, hasil terapi itu dapat diketahui jika ada penurunan suhu tubuh dalam tiga hari pada pasien Covid-19 yang mendapatkan plasma konvalesen. Selanjutnya, sesak akan hilang dalam 12 hari, antibodi meningkat, dan jumlah virus menurun. Selain itu, pasien juga bisa melepas ventilator setelah dua sampai tiga minggu menjalani perawatan. “Juga tidak terjadinya keadaan buruk lain,” jelasnya.
Arswendo juga menjelaskan, metode terapi dengan plasma konvalesen ini cukup efektif dalam menyembuhkan pasien Covid-19. Sebab, berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada pasien SARS, hasilnya menunjukkan adanya penurunan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit. Serta mengurangi angka kematian. Virus penyebab SARS merupakan kelompok virus yang sama dengan penyebab Covid-19. Editor : Radar Digital