Rahman, salah satu pedagang sayur keliling, mengatakan, harga sejumlah komoditas sayur tengah meroket belakangan ini. “Kalau sayuran hijau stabil. Tapi yang naik itu tomat, lombok, bahkan kubis yang dulu sangat murah sekarang mahal,” paparnya.
Satu buah kubis dia jual Rp 12 ribu. Padahal dulu hanya Rp 3.000. Bahkan, kata dia, dari petani bisa diambil secara cuma-cuma alias gratis, lantaran harga kubis sangat jatuh. Kini pergerakan harga kubis sangat prospektif sejak November silam. Menjelang tahun baru, mulai menembus belasan ribu per kilogram.
Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jember Gatot Sudibyo mengatakan, komoditas tanaman hortikultura yang jatuh akibat pandemi, yaitu cabai dan kubis, sekarang mulai merangkak naik. Namun, kata dia, naiknya tersebut karena kondisi cuaca yang tak menentu sehingga produksinya berkurang. “Selain cuaca, ada juga rasa trauma ke petani yang enggan kembali tanam kubis,” tuturnya.
Harga komoditas tanaman hortikultura yang naik pada musim penghujan seperti ini, menurut Gatot, adalah hal yang wajar. Sebab, untuk mempertahankan kualitas sayur tetap bagus butuh ongkos tambahan.
Yang penting adalah saat panen raya di musim kemarau, harga tidak sampai jatuh, tapi cukup stabil. “Kalau panen raya musim kemarau selalu murah. Beginilah tantangan yang dihadapi petani hortikultura sejak dulu,” pungkasnya.
Foto: Dokumentasi Radar Jember Editor : Safitri