Tanaman dengan bentuk dekoratif dan warna mulai dari hijau, putih, hinga semburat merah ini menjadi hal yang memikat masyarakat penggemarnya. Walau daya tariknya sampai ke luar pulau, tapi tak sedikit pemilik aglaonema tidak bisa memanfaatkan momentum untuk memasarkan tanaman yang habitat aslinya di hutan hujan tropis tersebut. “Biasanya bingung cara packing-nya,” terang Rumianto, warga Tegal Gede.
Dia yang diberi tugas untuk mencari solusi packing oleh perusahaan jasa pengiriman barang akhirnya menemukan cara agar tanaman itu tidak rusak. Yakni, tanamannya dilindungi pakai pipa. Selanjutnya diplester menjadi satu dengan pot. Bahkan, kata dia, juga pernah memakai galon, karena aglaonema ukurannya besar.
Walau hanya diberi tugas pengepakan, Rumianto juga mulai paham permintaan aglaonema seperti apa untuk pasar luar pulau. “Ada tim yang hunting tanaman. Mereka siap mencarikan aglaonema sesuai permintaan,” tuturnya. Aglaonema yang terjual rata-rata Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Ada pula yang paling murah berkisar Rp 350 ribu, dan paling mahal pernah tembus hingga Rp 3,5 juta.
Daerah Jatim, termasuk Jember, menjadi kawasan yang cukup diminati oleh penyuka aglaonema dari belahan Indonesia timur. Dari Sulawesi hingga Papua. “Kalau aglaonema dikirim dari Thailand, kata konsumen saat sampai warna daunnya menguning,” paparnya.
M Yusuf, pegawai pengiriman barang, mengaku, untuk mengirim bunga memang harus cepat. Karena itu, memakai pesawat. “Jadi, ke Surabaya dulu baru ke kota tujuan yang memiliki bandara,” jelasnya. Dia mengakui, dari Jember kerap mengirim tanaman hias termasuk aglaonema. Editor : Safitri