Walau tidak dapat gaji dua bulan, tapi mereka tetap masuk bekerja dan standby 24 jam nonstop. Rutinitas mengecek kesiapan pasukan, peralatan, hingga mobil damkar juga tetap dilakukan. Mereka pun siaga untuk berangkat apabila ada musibah kebakaran atau bencana lain. Termasuk ketika ada warga yang membutuhkan pertolongan, misalnya mengusir hewan berbisa.
Dari mereka yang tidak mendapatkan gaji, paling merana adalah petugas damkar non-PNS. Dengan gaji tak sampai UMK Jember, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama dua bulan terakhir, mereka harus berhutang kepada tetangga, teman atau saudara.
Fajar, salah satu petugas damkar non-PNS mengaku, dirinya mau tidak mau harus berhutang kanan kiri agar kebutuhan keluarganya terpenuhi. Menurutnya, baru akhir tahun ini gajinya tersendat. Sebelumnya belum pernah.
Dia pun berhutang ke sesama teman Damkar yang PNS. Agar tetap bertahan, dia juga tidak mau bergantung pada hutang. Fajar juga berjualan sempol. “Kalau di Damkar sehari full kerja. Sehari full off, jadi waktu off itu buat jualan sempol untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
Sementara itu Staff Mako Damkar Jember Sugeng Prayitno, berharap besar agar memprioritaskan petugas Damkar non-PNS supaya segera digaji. Apalagi, sebagian besar petugas Damkar Jember statusnya adalah pekerja nonp-PNS. Total ada 48 non-PNS, sedangkan PNS ada 21 orang. “Gaji per bulan pegawai Damkar non-PNS berkisar Rp 1,5 jt,” terangnya.
Dia mengaku, banyak petugas Damkar non-PNS itu berhutang lantaran dua bulan gaji tak turun. “Ada yang hutang ke koperasi. Ada juga ke pegawai Damkar yang PNS,” jelasnya. Selain itu ada pula yang pinjam ke teman lain di luar petugas damkar
Rata-rata dari mereka, banyak berhutang ke koperasi simpan pinjam. Harapan besarnya, petugas damkar tetap solid dan tangguh walau terkendala gaji. Selain itu, agar Pemkab Jember segera mencairkan gaji mereka. “Sebelama tujuh tahun bekerja di Damkar, baru pengujung tahun ini gaji belum dibayar. Semoga cepat cair,” harapnya. Editor : Safitri