“Terima kasih, Mas. Semoga ini banyak bermanfaat,” kata perempuan seusai menerima bantuan dari seorang pria saat itu. “Sama-sama, Bu,” sahut si pria berbaju hitam tersebut.
Pria berperawakan tinggi itu juga terlihat cukup sibuk. Maklum, ia sedang punya gawe besar saat itu. Bersama sejumlah rekannya, ia menyapa para undangan yang saat itu dari warga, pelajar, dan kalangan masyarakat yang memang dinilai butuh uluran tangan.
Ternyata, pria tersebut bernama Muhammad Abdul Ghofur alias Diki. Entah siapa yang mengawali memanggilnya Diki. Namun, nama itu sudah cukup familier di kalangan relawan sosial. “Jangan menyerah, ayo terus semangat,” pinta Diki, saat berbicara di depan mereka yang berasal dari kalangan penyandang cacat atau disabilitas.
Acara bareng penyandang cacat atau difabel saat itu merupakan bagian kecil dari seluruh kesibukannya selama sepekan. Sebab, sebenarnya di rumahnya, Dusun Jogaran, Desa Gumelar, Balung, Diki juga menjadi seorang pengajar di sebuah SMP di Kecamatan Balung.
Meski sebagian besar waktu ia habiskan berinteraksi dengan orang di luar rumah sebagai relawan kemanusiaan, namun ketika berinteraksi dengan keluarga, dia memanfaatkan pertemuan itu semaksimal mungkin. “Dalam sepekan itu ada Senin dan Selasa, waktu yang paling tidak bisa diganggu karena mengurus keluarga,” beber Diki.
Sisanya, Rabu hingga Sabtu, ia gunakan membantu orang. Dari menyalurkan bantuan, membantu pasien perawatan, hingga ikut serta merujuk orang sakit sampai ke luar Jember. Diki memang dikenal sebagai pendiri Yayasan Sahabat Rengganis Indonesia di Jember yang fokus memberikan bantuan sosial, duafa, dan pasien yang butuh pengawalan administrasi maupun biaya.
Karena itu pula, aktivitasnya itu membuat ayah dua anak tersebut harus bisa membagi waktu. Untuk keluarga, mengajar, dan membantu sesama. Dalam sepekan itu pula, jadwalnya sudah dibagi rata. “Selama saya dibutuhkan, dan tidak berbenturan dengan urusan lainnya, saya pasti bisa dan datang,” ucap guru ekstrakurikuler Pramuka ini.
Kesibukan Diki itu bukan sekali dua kali atau musiman, tapi sejak yayasan yang digawanginya terbentuk pada 2017 lalu. Sejak saat itu, Diki sudah terjun ke berbagai tempat. Melakukan pendampingan dan menyalurkan bantuan kemanusiaan hasil open donasi.
Ia juga bercerita, sebelum yayasannya berdiri, salah satu muridnya sempat mengidap kanker dan harus dirujuk ke RSD dr Soebandi karena harus mendapat perawatan intensif. Namun, selama beberapa pekan perawatan, sang murid tidak tertolong. Sepeninggal muridnya itu, nurani Diki terketuk. “Saya merasa, ada orang-orang di luar sana yang sebenarnya sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita,” kenangnya.
Benar saja. Sepeninggal muridnya, Diki mulai bertemu dengan sejumlah relawan yang berjuang seperti dirinya. Mereka kemudian sering melakukan kegiatan bareng hingga hari ini. Seperti kegiatan pemberian bantuan untuk difabel pekan lalu itu.
Kini, guru yang sekaligus operator sekolah tersebut masih aktif dengan kesibukannya. Baginya, tak ada yang lebih membahagiakan selain bisa bermanfaat untuk sesama. Terutama bagi mereka yang membutuhkan. “Karena bisa bermanfaat untuk bersama itu indah,” tukasnya. Editor : Safitri