Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Anak-Anak Jadi Kalangan Rentan

Safitri • Senin, 28 Desember 2020 | 20:50 WIB
“Paling penting, kalau udah pakai masker, satu kali langsung dibuang. Jangan dipakai lagi.”dr Angga Mardro Raharjo SpP, Dokter Spesialis Paru RSD dr Soebandi Pemkab Jember
“Paling penting, kalau udah pakai masker, satu kali langsung dibuang. Jangan dipakai lagi.”dr Angga Mardro Raharjo SpP, Dokter Spesialis Paru RSD dr Soebandi Pemkab Jember
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Libur tahun baru tetap membawa dampak keramaian di sejumlah tempat umum. Khususnya yang masih dibuka dan ramai dikunjungi. Walaupun tempat-tempat hiburan tersebut telah menetapkan protokol kesehatan yang ketat, namun tetap saja memiliki potensi besar dalam penyebaran Covid-19.

Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo SpP, mengungkapkan bahwa saat ini penyebaran Covid-19 yang paling banyak terjadi pada klaster keluarga. Menurutnya, setelah klaster kantor, penyebaran Covid-19 menyebar ke klaster keluarga. “Sebabnya adalah virus dari klaster kantor inilah yang menyebar di rumah,” ungkap dr Angga.

Pengetatan akses perjalanan di libur Natal maupun tahun baru, kata dia, tidak cukup berpengaruh. Sebab, ketentuan yang dipakai di sejumlah moda transportasi masih tidak cukup jika hanya melakukan tes dengan antigen. Sedangkan tes antigen tidak cukup bisa mendeteksi positif atau tidaknya seseorang dari virus Covid-19.

Melihat kondisi itu, satu-satunya alternatif yang dapat ditempuh adalah memperketat diri untuk patuh pada protap Covid-19. Masyarakat dituntut untuk mematuhi protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Termasuk ketika beraktivitas di sekitar rumah. Protokol kesehatan yang dimaksud yakni disiplin menggunakan masker, rutin mencuci tangan, juga menjaga jarak fisik antarorang. “Paling penting, kalau udah pakai masker, satu kali langsung dibuang, jangan dipakai lagi,” ungkap dr Angga.

Jika terdapat klaster keluarga, anak yang paling beresiko untuk tertular Covid-19. Dokter Spesialis Anak dr Gebyar TB mengungkapkan bahwa penyerangan Covid-19 pada anak berawal ketika anak menunjukkan spektrum klinis. Sedangkan laboratoris yang diperlukan sedikit berbeda dibanding orang dewasa.

Mayoritas anak yang terkena, lanjut dr Gebyar, hanya menampakkan tanda-tanda ringan seperti demam, batuk, dan pilek. Perbedaannya terletak pada perbedaan respons peradangan tubuh terhadap kualitas dan kuantitas patogen virus korona.

Selain itu, terdapat perbedaan pada sektor penerimaan tubuh terhadap antigen Covid-19. “Atau barangkali anak sudah dapat kekebalan yang berasal dari ibu, atau anak sering terserang virus lain yang berkompetisi dengan virus Covid-19,” ungkap dr Gebyar.

Selanjutnya, sistem penularan yang didapat pada anak mirip dengan dewasa. Yakni bisa terpapar langsung melalui udara maupun lewat percikan ludah pada waktu berbicara, batuk, atau terkena bersin dari orang yang terpapar.

Secara hipotesis, analisis anak yang terinfeksi persentasenya akan lebih tinggi apabila pola hidup sehat yang tidak disiplin dari orang dewasa yang berisiko di sekitarnya. Atau adanya penyakit penyerta maupun penyakit kronis yang mendasari seperti kegemukan, cakupan imunisasi yang belum lengkap, asma, penyakit paru, dan penyakit lainnya.

Antisipasi yang paling efektif adalah istirahat atau tidur yang cukup, olahraga dan menjaga kebugaran, nutrisi seimbang, penghindaran stres, pola hidup sehat, penggunaan masker dan cuci tangan, jaga jarak, serta imunisasi akan meningkatkan sistem imun tubuh dan penghindaran terhadap infeksi Covid-19. Editor : Safitri
#Jember