Miskun, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, mengungkapkan, apa yang dialami oleh Riyadi sudah jamak dirasakan oleh para kuli panggul lainnya. Mereka kerap mengalami sakit pinggang. “Selain banyak pohon kelapa yang harus dipanjat, mereka juga mengangkat banyak kelapa muda setiap hari. Antara 100 hingga 200 buah per hari,” katanya.
Biasanya, warga di perdesaan yang mengalami kecetit itu tidak segera berobat ke dokter. Mereka akan mendatangi tukang pijat untuk mengurangi gejalanya. Padahal, jika tak segera teratasi, kondisi saraf terjepit ini bisa berbahaya. Bahkan, dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya.
dr I Nyoman Semita, dokter spesialis tulang belakang di RSD Soebandi, menjelaskan, saraf terjepit di tulang belakang itu ada dua macam. Saraf terjepit bagian tepi dan saraf pusat. Kalau saraf pusat yang terkena, biasanya menimbulkan kelumpuhan di tungkai. Bisa empat atau dua tungkai di bagian bawah yang disertai dengan gangguan berak dan kencing. “Kalau saraf tepi yang kena, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang panjang. Mulai pinggang, bokong, paha, hingga betis. Kadang sampai ke telapak kaki,” jelasnya.
Menurut dia, penyebab saraf terjepit bisa karena tekanan sesuatu. Baik proses penuaan, infeksi, tumor, kecelakaan, maupun oleh beban yang berjalan panjang. “Yang dimaksud saraf kejepit oleh masyarakat, biasanya yang terkait dengan beban yang panjang dan berulang-ulang,” ucapnya.
Dia mencontohkan, bekerja berat atau kuli pengangkut barang. Seseorang tersebut beraktivitas membawa barang berat dan berulang-ulang. Dengan demikian, terjadi benjolan pada bantalan tulang. Dari depan menonjol ke belakang sehingga saraf tepi menjadi tertekan. Kalau kecetit sendiri, dia mengungkapkan, terkait dua hal. Otot tiba-tiba nyeri dan tak bisa menggerakkan badan, dan karena ada kerusakan lebih dalam pada otot, yakni sarafnya. “Ini juga memberikan pantulan ke otot sehingga seseorang tak bisa menggerakkan pinggang, bokong, hingga kaki,” imbuh dokter yang menjalani pendidikan S-3 Doktoral by Research di Universitas Airlangga tersebut.
Jika masyarakat mengalami saraf terjepit di tulang belakang, menurutnya, ada perbedaan penanganan. Yakni akut, yang biasanya kejadiannya berlangsung kurang dari 21 hari, dan kronis, yang sudah lebih dari 21 hari. Saraf terjepit akut lebih disebabkan adanya pembengkakan karena tertekan dan baru bengkak. Jika seperti itu, seseorang harus mengambil sikap berbaring, relax, menggunakan bantal yang tidak tinggi, dan tarik napas panjang di tempat tidur yang pas. “Jangan pakai papan dan jangan memakai kasur kapuk yang njeglong,” katanya.
Penggunaan papan dilarang karena justru kian keras, sehingga otot semakin tertekan. Kalau terbuat dari kapuk, bakal dapat mengubah posisi dan morfologi tulang. Dengan begitu, kasur yang pas adalah yang padat. Penderita juga harus banyak minum. Sebab, salah satu penyebabnya adalah proses penuaan. Kadar air dalam bantalan tulang belakang berkurang. Selanjutnya, hindari aktivitas membungkuk kalau penyebabnya adalah saraf bagian depan.
Sebenarnya, Nyoman Semita berkata, masyarakat bisa mengidentifikasi sendiri bagian saraf yang bermasalah. Pada tulang bagian depan atau belakang. Kalau bagian depan, hindari aktivitas membungkuk. Jika dirasakan, biasanya semakin tegak semakin nyaman. Jika penyebabnya bagian belakang, maka semakin tegak semakin sakit. Jadi kebalikannya, harus sedikit membungkuk. “Karena itu, berbaring saja selama sehari dua hari dan tidak melakukan pekerjaan berat. Serta mengonsumsi obat nyeri selama satu hingga dua hari. Kalau membaik, teruskan selama seminggu. Kalau tak membaik, silakan mencari ahli tulang belakang,” sarannya.
Meski demikian, dr Nyoman memaparkan, penderita saraf terjepit itu sebanyak 40 persen memiliki kemungkinan sembuh dengan sendirinya. Masyarakat hanya perlu mengidentifikasi. Jika kronis dan lebih dari 21 hari, harus diperiksa untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. “Dianalisis, butuh obat apa. Perlu fisioterapi atau tidak. Namun, jika sampai menimbulkan kelainan saraf berupa kelumpuhan, harus segera ke dokter,” tandasnya. Editor : Safitri