Saat ini, tantangan yang dirasakan oleh guru BK adalah bergesernya metode konseling dari tatap muka menjadi daring. Mau tidak mau, guru BK harus mengubah metode layanan dasar secara virtual. Dalam pelaksanaannya, konseling yang dilakukan secara daring tidak dapat dilakukan secara maksimal. Sebabnya, komunikasi yang berjalan pun tidak optimal.
Tidak maksimalnya konseling virtual salah satunya disebabkan keterbatasan komunikasi. Ada peran komunikasi baik verbal maupun nonverbal yang bisa memberikan efek kepada siswa saat konseling. Sehingga guru dituntut untuk memiliki inovasi pendekatan yang bisa dilakukan melalui aplikasi perpesanan instan. Namun demikian bisa menggunakan platform yang lebih luas lagi.
Sayangnya, bimbingan konseling secara virtual hanya bisa dinikmati oleh siswa di wilayah perkotaan saja. Di desa, tak semua sekolah melakukannya. Guru Bimbingan Konseling SMP 4 Hendra Puji Asmara mengatakan bahwa selama ini dirinya menjalankan program konseling secara langsung tanpa menggunakan metode daring. Sebab, tak semua fasilitas dimiliki oleh murid-muridnya.
Bimbingan konseling pun dilakukan selama sepekan sekali atau sesuai dengan permintaan murid. Nantinya, guru BK yang akan berkunjung ke rumah murid. “Bimbingan konseling tetap dilaksanakan, tetap memakai metode guling atau guru keliling,” tambah Hendra.
Kepala Penerimaaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Muhamadiyah Jember, Ilham Syaifudin dalam Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMK Provinsi Jawa Timur membenarkan bahwa dalam masa pandemi seperti ini guru BK dituntut untuk tetap menjalankan peranannnya meskipun siswa bersekolah secara daring. Meskipun situasi pandemi, guru BK harus tetap produktif. “Guru BK harus mengerti bagaimana keadaan para siswa akibat dari pandemi ini misalnya masalah belajar secara daring,” ungkap Ilham.
Lebih lanjut, Ilham juga memberi penjelasan tentang tantangan ke depan di tengah pandemi. Pola kehidupan dan kebiasaan masyarakat yang berubah akibat adanya pandemi juga akan mempengaruhi psikis tak hanya siswa saja tetapi masyarakat pada umumnya. “Apalagi kita juga harus siap menyambut era disrupsi,” tambah Ilham.
Sehingga ke depan, tuntutan guru BK tidak hanya bisa memberikan bimbingan konseling saja. Namun juga berinovasi memproduksi konten pembelajaran yang disampaikan melalui daring. Dimana, dalam inovasi tersebut terdapat interaksi psikologis antara murid dan siswa. “Sehingga hubungan emosionalnya tetap terjaga dan terjalin,” pungkasnya. Editor : Safitri