Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sempat Bikin Grogi, namun Ternyata Membawa Hoki

Safitri • Sabtu, 21 November 2020 | 20:50 WIB
MOMEN TAK TERLUPAN: Zainal Anshari Marli, dosen IAIN Jember. Doktor muda ini menjalani ujian disertasi tak biasa. Dia mengenakan sarung ketika menghadapi dosen penguji di Pascasarjana Unisma Malang.
MOMEN TAK TERLUPAN: Zainal Anshari Marli, dosen IAIN Jember. Doktor muda ini menjalani ujian disertasi tak biasa. Dia mengenakan sarung ketika menghadapi dosen penguji di Pascasarjana Unisma Malang.
Biasanya, aktivitas akademik itu selalu formal. Namun, kala itu suasananya berbeda. Karena bertepatan dengan Hari Santri, siapa pun yang ke kampus wajib bersarung. Termasuk Anshari, yang saat itu mengikuti ujian disertasi terbuka. Kenangan inilah yang masih ia ingat hingga kini.

MAULANA, Kaliwates, Radar Jember

Ingatan Anshari seperti kembali pada Jumat 22 Oktober lalu. Sesaat sebelum dirinya mengikuti ujian terbuka program doktor di Universitas Islam Malang (Unisma). Ketika mengenang momen mendebarkan tersebut, dia senyum-senyum sendiri. Anshari tak menyangka, sarung telah mengantarkannya menjadi seorang doktor muda.

Sementara Anshari bercerita, istrinya, Leny Marinda, menunjukkan pakaian ‘keramat’ yang kini sudah tersimpan rapi. Sebuah sarung, genap dengan songkok, jas hitam, dan kemeja putih. “Sarung ini yang saya kenakan saat ujian lalu,” kata pria bernama lengkap Zainal Anshari Marli itu sambil menunjukkan sarung berwarna merah, bermotif kotak-kotak.

Ia mengaku tak pernah lupa detik-detik pada hari penting yang mengentaskan studi program doktornya itu. Sebab, diakhiri dengan suasana berbeda dari kebanyakan mahasiswa strata tiga pada umumnya. “Biasanya di kampus wajib berpakaian formal. Namun, khusus ujian disertasi, saya justru harus mengenakan sarung,” imbuh lelaki 36 tahun itu.

Dosen di IAIN Jember ini mengaku, sesaat sebelum memasuki ruang ujian, tubuhnya seperti keluar keringat dingin. Bayangan tentang pertanyaan yang akan dilontarkan oleh ketujuh dewan penguji sempat membikin dia grogi. Apalagi, semuanya adalah guru besar. “Ada perasaan grogi. Karena sepanjang sejarah kampus itu, baru saya yang perdana ujian mengenakan sarung. Tapi saya berusaha tampil percaya diri,” ungkapnya.

Saat ujian, ia mengangkat tema penelitian tentang Membangun Kesadaran Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Studi Multi Kasus di SMA Muhammadiyah 3 Jember dan SMA Katolik Santo Paulus Jember). Penelitiannya yang mengangkat tentang multikultural itu, seolah terwakilkan dengan cara ia berpenampilan saat ujian. Mengenakan sarung, berkopiah, mengenakan jas, kemeja putih, dan bersepatu.

Pakaiannya memang tampak berbeda-beda. Dari atas hingga bawah. Tapi sebenarnya, kata dia, perbedaan inilah yang justru menggambarkan satu kesatuan yang harmonis. Persis dengan tema yang dia angkat dalam disertasinya. “Begitu pula dengan konsep pendidikan multikultural. Mampu memahami keberagaman dan mampu hidup berdampingan, serta rukun dan harmonis,” jelasnya.

Melalui sambungan siaran live, saat ujian berlangsung itu pula, salah satu dewan penguji sempat membuatnya kelimpungan. “Dicecar berbagai pertanyaan, sekitar 1,5 jam waktu ujian saya itu,” katanya. Namun, tak sedikit pula dewan penguji yang mengapresiasi, baik dari penampilan maupun hasil penelitian disertasinya.

Menurut dia, meski yang dihadapi para guru besar, namun mereka berasal dari berbagai disiplin keilmuan yang berbeda-beda. “Ada penguji yang bilang begini: Anda bisa jadi satu-satunya mahasiswa yang dinyatakan lulus ujian doktor dengan mengenakan sarung,” kenangnya, menirukan sang penguji.

Hingga saat ini, kenangan saat ujian terbuka itu benar-benar melekat di ingatannya. Anshari yang awalnya merasa minder bercampur grogi, kemudian menyadari bahwa pakaian ala santri tersebut justru memiliki energi baru. Ia justru merasa yakin, namanya bakal mudah diingat sebagai lulusan doktor yang berbeda. "Semoga juga membawa keberkahan bagi saya, karena juga bertepatan dengan Hari Santri dan Maulid Nabi," harapnya.

Kini, selepas ujian itu, ayah empat anak tersebut masih konsisten dengan aktivitasnya. Menjadi tenaga pengajar. “Kalau ada jalan, insyaallah lanjut guru besar. Ini semua merupakan bagian dari komitmen saya untuk menjalankan amanah sebagai pengajar,” tukasnya. Editor : Safitri
#Jember #Universitas Terbuka #dokter