Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kembangkan Pertanian Sistem Hidroponik, Hasilnya Lebih Menguntungkan

Safitri • Senin, 16 November 2020 | 20:36 WIB
TERNGIANG: Muhandari, 72, satu dari sekian korban selamat saat banjir bandang di Panti, 17 tahun lalu.
TERNGIANG: Muhandari, 72, satu dari sekian korban selamat saat banjir bandang di Panti, 17 tahun lalu.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pagi itu, Deby sudah sibuk dengan tandon air di kebunnya. Matanya terus mengamati air yang mengalir di dalam pipa-pipa seukuran paha remaja. Paralon inilah yang menjadi tempat meletakkan ribuan tanaman hidroponik yang dia kembangkan. “Kalau kurang air ya ditambah, kalau tidak ya tidak usah,” kata petani yang memiliki nama panjang Khudaibiyyah Hasbi tersebut.

Bermodalkan lahan kosong, Deby memanfaatkannya menjadi lahan bercocok tanam. Dia tak menggarap lahan itu secara konvensional, melainkan memilih pertanian hidroponik. Tepatnya pada Agustus 2019 lalu. Perempuan 35 tahun tersebut menuturkan, banyak tanaman yang dia budi dayakan sejak saat itu. Di antaranya, selada, pakcoi atau sawi sendok, sawi samhong, sayur kailan, bayam merah, bayam hijau, dan kangkung. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 5.300 lubang yang digunakan untuk bercocok tanam,” terangnya.

Dia menjelaskan, cara bercocok tanamnya cukup mudah. Namun, pasokan air tidak sampai telat. Sebab, nyawa tanaman dengan sistem hidroponik itu memang terletak pada air. Selain itu, kata dia, pola harus berkala supaya masa panennya tidak berbarengan. “Jadi, setiap hari harus rajin mengontrol intensitas dan kualitas airnya. Seperti pH air dan nutrisi A B mix yang dibutuhkan tanaman,” paparnya.

Karena tanaman hidroponik itu nonpestisida, maka dirinya tidak memakai hal-hal yang berbahan kimia. Termasuk untuk pupuk yang digunakan. Dia hanya menggunakan nutrisi yang dibuat secara mandiri. “Bahan yang saya buat berbahan unsur hara makro. Saya juga menggunakan nutrisi A dan B yang dicampurkan ke dalam tandon air. Jadi, tidak terdampak meski pupuk subsidi langka,” ucap perempuan yang mengembangkan pertanian di Desa Labruk Lor, Kecamatan/Kabupaten Lumajang, tersebut.

Tak hanya bebas dari dampak kelangkaan pupuk, pola pertanian hidroponik juga nyaris tak terdampak pandemi. Harga jualnya masih aman dan tidak sampai anjlok. Meski begitu, tetap ada kendala, yakni soal pengiriman. Jika sebelum pandemi, dia bisa memasarkan sayurnya hingga ke Surabaya. Saat ini, hanya di sekitaran Lumajang. “Karena tidak memungkinkan mengirim ke luar daerah,” paparnya.

Masih tingginya harga jual itu, kata dia, lantaran tanaman hidroponik merupakan pertanian organik, sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan hasil panen konvensional. “Misalnya selada. Hasil panen selada hidroponik bakal tetap segar hingga dua sampai tiga hari,” tuturnya.

Sementara itu, selada hasil pertanian konvensional dan menggunakan pupuk kimia harus segera dikonsumsi setelah dipanen. Kalau tidak, akan layu dan menguning. “Meski modal hidroponik lebih mahal, tapi kualitasnya bisa dipastikan jauh lebih bagus,” tandasnya. Editor : Safitri
#Jember #Pertanian