Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Nyawa di Ujung Tanduk, Pasrahkan Hidup pada Tuhan

Safitri • Kamis, 12 November 2020 | 20:35 WIB
JELAJAH BEDADUNG: Anggota tim ekspedisi arung jeram Sungai Bedadung oleh Mahapena pada 1991 lalu sukses mendekati garis finis di Puger. Perbedaan Bedadung sekarang dengan dulu, terutama adalah rimbunan bambu yang diganti permukiman.
JELAJAH BEDADUNG: Anggota tim ekspedisi arung jeram Sungai Bedadung oleh Mahapena pada 1991 lalu sukses mendekati garis finis di Puger. Perbedaan Bedadung sekarang dengan dulu, terutama adalah rimbunan bambu yang diganti permukiman.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Kaprawi memandangi langit-langit rumahnya. Dia seperti mengais sisa-sisa ingatan tentang perang yang terjadi hampir setengah abad lalu. Letusan bom dan suara desing peluru seolah masih membayang. Deru napasnya terdengar cukup berat. Entah apa yang dia ingat.

“Pada situasi perang, semua prajurit harus siaga. Karena pertempuran bisa meletus sewaktu-waktu,” kata veteran 77 tahun tersebut, mengawali kisahnya. Selama bertugas di Timor Timur, Kaprawi ditempatkan di barisan tengah. Tidak di depan, juga tidak di belakang. Ini adalah posisi yang cukup aman baginya.

Saat berperang, Kaprawi tidak diperbolehkan memakai seragam tentara. Ia justru diwajibkan memakai baju preman. “Waktu itu memang seperti itu aturannya,” ungkapnya.

Peperangan itu semakin memanas ketika timnya diadu dengan pasukan Portugis. Saat itu, persenjataan Kaprawi dan prajurit lainnya masih minim. Karena itu, beberapa rekannya yang ada di barisan depan gugur di medan perang. Ia pun bersyukur masih diberi keselamatan hingga pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan istrinya.

Bagi Kaprawi, prinsip yang dipegang adalah tetap dan istiqamah beribadah, serta meminta perlindungan kepada Tuhan. “Saya tidak bisa berharap apa pun lagi. Perlindungan saya serahkan kepada Tuhan,” ungkap veteran yang sekarang tinggal di Perumahan Sumbersari Permai 1, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Kaprawi adalah prajurit biasa. Dia lahir dari kalangan keluarga sederhana. Orang tuanya tak memiliki garis keturunan ningrat atau pejabat. Meski begitu, kondisi ini tidak menyurutkan niat Kaprawi remaja untuk menjadi seorang anggota militer. Akhirnya, cita-citanya itu terwujud pada 1964. Dia diterima sebagai seorang serdadu.

Kaprawi mengawali karirnya sebagai prajurit kader di Kodim 0824 Jember. Hingga kemudian, ia dipercaya menjadi delegasi prajurit yang berangkat ke Timor Timur pada 1975 lalu. Ia berangkat dari bandara Surabaya. Ada kisah lain yang mengiringi perjalanannya sebelum menjalankan tugas di tempat baru.

Kala itu, ia pergi ke Timor Timur tepat di Hari Raya Idul Fitri. Kaprawi ada di Surabaya. Sedangkan anak dan istrinya di Jember. Sebelum berangkat, ia nekat pulang ke Jember untuk bertemu anak dan istrinya. Padahal, perintah sang komandan sudah jelas. Semua prajurit yang akan berangkat dilarang pulang ke rumah terlebih dulu.

Dalam perjalan menuju Jember, Kaprawi dihantui penyesalan kepada anaknya. Sebab, beberapa hari sebelumnya, dia memukul anaknya tersebut dengan penggaris di punggung. “Saya sudah tidak mikir aturan atasan. Yang saya pikirkan waktu itu bagaimana bisa ketemu anak saya dan minta maaf sebelum pergi ke Timor Timur,” kenangnya.

Kaprawi pun akhirnya sampai di Jember untuk bertemu dengan kedua anaknya dan meminta maaf. Saat itu, permintaan maaf Kaprawi dianggap biasa saja oleh kedua anaknya. Namun, bagi dirinya hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat terkenang karena tindakan pemukulan itu membuatnya merasa bersalah.

Dengan berat hati, seusai melaksanakan salat Idul Fitri, Kaprawi bertolak menuju Surabaya untuk kemudian berangkat ke Timor Timur. Kaprawi bertugas di Timor Timur selama 9 bulan. Dalam satu bulan sekali, dirinya berkirim surat dengan keluarga. Istrinya rajin mengirim foto keluarga melalui surat. “Bisa dihitung, sebulan hanya sekali kami surat-suratan. Istri saya mengirim foto keluarga. Setiap bulan pasti ganti, karena dia memakai jasa tukang foto keliling,” tuturnya.

Apa yang dialaminya ini menggambarkan, setiap tentara yang ditugaskan di medan perang bukan hanya mempertaruhkan nyawa, tapi juga keluarga. Kini, dia pun hanya berharap, para generasi muda bisa lebih menghargai perjuangan para pendahulunya. Termasuk para pejabat di pemerintahan. Sebab, saat ini cukup banyak berita tentang korupsi yang melukai rasa keadilannya. “Kasus korupsi itu seperti tidak menghargai upaya kami dalam berjuang di masa lalu,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Jember