Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Abad 19 Sudah Ada Kampung Kuno, bahkan Jadi Jujukan Londo

Safitri • Senin, 19 Oktober 2020 | 19:32 WIB
DULU DAN SEKARANG: Wajah eks pertokoan Jompo pascaambruk dan akan dibangun kembali menjadi jalan. Foto insert, Jembatan Jompo era 60-an silam.
DULU DAN SEKARANG: Wajah eks pertokoan Jompo pascaambruk dan akan dibangun kembali menjadi jalan. Foto insert, Jembatan Jompo era 60-an silam.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Siti Lailati menerawang ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Warga yang tinggal di Lingkungan Kulon Pasar Tanjung, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates, ini berusaha merangkai serpihan ingatannya tentang kapan kali pertama pertokoan Jompo itu dibangun. Menurutnya, ruko itu mulai ada sekitar tahun 1974 atau 1975 lalu.

“Tapi kalau jembatannya sudah ada sejak zaman Londo (Belanda, Red),” tuturnya. Nenek 71 tahun itu memiliki daya ingat kuat. Dirinya mengaku sudah ada dan lahir di sekitar Sungai Jompo itu pada 1949 silam. Kata dia, dulunya Sungai Jompo memang tak seramai sekarang. Tapi kini, kondisinya jauh berbeda. Sudah banyak yang berubah, termasuk pertokoan yang berderet di sepanjang Jalan Sultan Agung dan Samanhudi.

Kendati telah banyak perubahan, namun tetap ada satu dua bangunan yang berdiri di sekitar sungai. Namun, dia tak menyebutkan bangunan mana saja yang tergolong kuno tersebut. “Mulai dibangun itu, saya sudah tidak tahu pasti untuk apa dan bagaimana,” ucapnya.

Sebenarnya, keberadaan Sungai Jompo yang dihiasi bangunan di atasnya itu sudah disayangkan sejak awal. Terlebih, di sekitar Jompo merupakan tempat bersejarah bagi Jember. Y Setiyo Hadi, pegiat sejarah dari Museum Boemi Poeger Persada Jember, menilai, pemanfaatan lahan, terutama yang berada di kawasan sempadan sungai dari hulu ke hilir, seharusnya dipelajari dan dilihat secara bijak.

“Terjadinya peristiwa itu bukanlah bencana alam. Tapi tidak elok juga kalau kita saling menyalah satu sama lainnya. Ambrolnya pertokoan Jompo itu karena pemanfaatan manusia yang berupaya merekayasa kondisi alam untuk kepentingan ekonomi,” jelasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Yopi ini, Jompo di masa silam merupakan sentral perputaran ekonomi. Menjadi pusat hunian penduduk, perkantoran, dan perdagangan. Ramainya kawasan Jompo, kata dia, bermula dari kawasan yang disebut Kampung Ledok dan Kebon, yang pernah disinggahi oleh Thomas Horsfield, 1806 silam. Saat itu, sebelum Jompo berkembang, Thomas Horsfield menyebut Jember sebagai village atau dorp, alias daerah yang penduduknya mengalami busung lapar.

Kemudian, seiring berkembangnya zaman, kawasan Jember yang awalnya dikenal daerah miskin terus mengalami kemajuan. Ini ditandai dengan berdirinya Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), sebuah perusahaan Belanda yang bergerak di sektor perkebunan, pada 21 Oktober 1859. “Di era-era ini, mendorong pengembangan penduduk di wilayah desa menjadi Kota Jember, sekaligus tempat permukiman dan perkantoran perkebunan,” bebernya.

Tahun-tahun itu pula, Yopi mengungkapkan, bisa disebut sebagai tonggak sejarah dalam perkembangan perkebunan di Jember pasca-berdirinya LMOD oleh George Birnie bersama dua partner bisnisnya, Matthiesen dan Van Genep. Yopi menyebut, oleh banyak kalangan yang mengkaji tentang sejarah Jember, berdirinya LMOD itulah yang menjadi titik awal perkembangan Kota Jember.

Catatan Staatsblad Van Nederlandsch Indie Nomor 17 tentang Binnenlandsch Bestuur Bezoeki, membeberkan Splitsing der Afdeeling Bondowoso in Twee Assistent-Residentien tertanggal 9 Januari 1883, yang membagi Afdeeling Bondowoso menjadi dua afdeeling. Yakni Afdeeling Bondowoso dan Djember.

“Ini yang kemudian menyebabkan desa Jember berkembang menjadi benar-benar sebagai kota afdeeling (kabupaten). Pengaruhnya, mendorong perkembangan penduduk dan pembangunan fisik di sekitar Kali Jompo sebagai pusat kotanya yang merupakan bagian dari Jember Kidul,” ulas Yopi.

Setelah menjadi Ibu Kota Afdeeling Djember, wilayah Kota Djember berkembang menjadi kawasan yang berfungsi beragam. Tak hanya sebagai hunian penduduk, tapi juga perkantoran, pertokoan, serta pusat keramaian lainnya. Di periode itu pula, pembangunan infrastruktur mulai digalakkan dan berkembang setelah pembangunan rel kereta api yang melintasi Sungai Jompo.

Perkembangan Djember semakin tampak pada setahun berikutnya. Ketika pada 29 September 1884 didirikan Cultuurmaatschappij Kali Djompo oleh J Th M Willemse, pemilik perkebunan (ondernemer). Lokasinya di lahan Perkebunan Petoengroto (Kalidjompo) yang menanam kopi dan karet (caouthchoue).

Dari situlah Yopi meyakini, kawasan Jompo telah menjelma menjadi daerah yang mulai sibuk dengan roda perekonomian di era J Th M Willemse. Pada saat bersamaan, perkampungan di sekitarnya mulai hidup. Seperti Kampung Kebong, Ledok, Tempean, Comboran, Telengsari (sekarang Talangsari), Djember Kidoel, Toempoeng, dan beberapa perkampungan lainnya.

Ia menilai, peristiwa ambrolnya pertokoan Jompo harus memberikan pelajaran untuk semua agar lebih mawas diri. Bahkan jika menilik kilas balik sejarah itu, sebenarnya ada yang lebih potensial untuk dikembangkan ketimbang perdagangan, yakni wisata. Sebab, dengan menjadikan kawasan itu sebagai destinasi wisata, bakal menggerakkan roda ekonomi tanpa mengubah wajah dan sejarah kawasan tersebut. “Perlu adanya revitalisasi Kali Djompo dengan memfungsikan kembali sebagai aliran air. Dan juga merevitalisasi kampung-kampung lawas atau kuno itu. Karena itu bisa menjadi potensi destinasi wisata kampung kuno Jember,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Jember #Infrastruktur