Dian, warga Kelurahan Mangli, Kaliwates, menjual tembakaunya dengan keliling door to door. Cara itu diakuinya baru pertama kali dilakukan. "Kalau dijual seperti biasanya ke pengepul, lalu dikirim ke pabrik, itu sudah tidak laku. Kalaupun laku, harganya murah," katanya.
Sebenarnya, cara tersebut sudah lama dilakukan para petani tembakau. Biasanya, kata Dian, tiap panen tembakau, petani tidak menjual semua hasil panennya. Namun, ada sebagian yang disimpan hingga kurun waktu beberapa bulan. Bahkan, ada yang sampai setahun. Tembakau yang disimpan itulah yang diyakini bakal dijual eceran, karena diyakini memiliki cita rasa tersendiri yang disukai konsumennya.
"Karena semakin lama disimpan, aroma tembakau semakin kuat dan berkembang," tuturnya. Ia sendiri membanderol tembakaunya seharga Rp 25 ribu per ons. Hal itu cukup standar. Sebab, pedagang di pasar ada yang jual satu ons di kisaran Rp 30 ribu ke atas.
Sejak harga tembakau rusak, belakangan ini, banyak petani tembakau yang merasa kelimpungan. Sehingga ada beberapa petani yang memilih menjual tampangan alias eceran. Jadi, setelah tembakau dirajang dan dikeringkan, kemudian digulung menyerupai konde perempuan. Tembakau kering gulung inilah yang oleh petani disebut tampangan. Meski begitu, ada juga petani yang memilih menjual rugi daripada tidak laku sama sekali.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi Kabupaten Jember Abdurrahman mengatakan, terpuruknya kondisi petani tembakau diperparah karena daya beli pabrik yang melemah. Namun, hal itu diakuinya wajar. Sebab, pabrik menanggung beban pajak cukai rokok yang kian melangit. "Baik pabrik maupun petani tembakau sebenarnya sama-sama kurang diuntungkan. Yang paling diuntungkan tetaplah pemerintah. Dan yang paling terpuruk petani tembakau," imbuhnya. (mau/c2/rus) Editor : Safitri