Di malam itu, pria yang saat ini menjadi Kepala Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tersebut nyaris disapu tsunami bersama tujuh rekannya. Mereka berhamburan berlari sejauh mungkin menghindari terjangan ombak. Rasa panik dan khawatir bercampur aduk. Sebab, saat itu Ngadi dan teman-temannya berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Jarak yang cukup dekat.
Beruntung, Ngadi dan kawan-kawannya berhasil menyelamatkan diri. Tak ada yang luka atau tersapu ombak. Rumahnya yang berada di wilayah Watu Ulo juga aman. Namun, di daerah Payangan, tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat 11 rumah yang tersapu ombak. Binatang ternak milik masyarakat juga ada yang mati. Banyak rumah-rumah porak-poranda. “Sebelumnya memang ombak laut itu pasang. Tapi, kami tak menduga akan ada tsunami,” kata Ngadi, mengenang tragedi yang terjadi 1994 tersebut.
Jember dilanda tsunami pada sembilan titik yang tersebar di enam kecamatan. Yaitu, di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo. Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Desa Lojejer dan Pantai Papuma di Kecamatan Wuluhan. Sedangkan di wilayah Kecamatan Puger, tsunami menerjang tiga kawasan pesisir, yakni Desa Puger Kulon, Puger Wetan, dan Mojomulyo. Dua wilayah sisanya adalah di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.
Bencana ini sebenarnya imbas tsunami yang menerjang Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Tragedi itu terjadi Jumat 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tsunami Pancer muncul setelah adanya gempa bumi tektonik yang berpusat di Samudera Hindia, tujuh jam sebelumnya. Kemudian, tsunami menghantam pesisir selatan Jawa Timur bagian timur, khususnya di Kabupaten Banyuwangi, dan berimbas hingga ke pesisir selatan Jember.
Matori, penjual ikan bakar di Pantai Pancer, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, juga masih ingat betul tragedi itu. Kala itu, dia mengatakan, perahu-perahu yang berjejer di bibir pantai saling bertabrakan. Sebagian besar terbalik. Bahkan ada beberapa perahu dan kapal nelayan hancur total. Warung-warung kecil yang berjajar di bibir pantai hancur. Tak ada yang tersisa.
Beruntung, saat itu tak ada nelayan yang melaut. Sehingga tsunami tersebut tak sampai memakan korban. Meski begitu, hingga kini masih menyisakan trauma. “Karena memang para nelayan sudah waswas dengan ombaknya yang tinggi,” tutur Matori.
Pengakuan tak jauh berbeda disampaikan Kepala Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Lasidi Agung Santoso. Ia mengaku, kala tsunami menerjang pesisir Paseban, masyarakat berhamburan tak terkontrol. Banyak rumah yang porak-poranda. Beruntung, pada saat itu tsunami tak sampai memakan korban jiwa. “Karena jarak permukiman kami sangat dekat dengan pantai. Kami berlarian tak karuan,” kata ayah satu anak itu.
Tragedi tersebut tak hanya meninggalkan nestapa. Tapi juga kenangan traumatik. Apalagi baru-baru ini, pesisir selatan Jember sempat dilanda gempa meski berskala kecil. Tepatnya, Rabu (7/10) tengah malam lalu. Lasidi berkata, saat gempa itu terjadi, beberapa warganya sempat panik. “Walaupun gempa terjadi dalam skala kecil, masyarakat tetap panik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, Kamis (8/10).
Ngadi, juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, di wilayahnya gempa kecil juga terjadi. Namun, banyak warga yang tak menyadari adanya gempa. Sehingga semua aktivitas tetap berlangsung normal. “Mereka tetap melaut,” ungkap pria yang memiliki hobi diving tersebut.
Ngadi dan Lasidi sama-sama menilai, potensi terjadinya tsunami sebagaimana hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus diwaspadai. Semua pihak diminta bergotong royong melakukan antisipasi dan mitigasi bencana. Salah satunya gencar mengedukasi dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, berbagai simulasi menghadapi bencana juga telah dilakukan oleh pemerintah tingkat desa. Baik yang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun secara mandiri. “Kami telah menyiapkan Kampung Tangguh dan satgas. Intinya, kami giat memberikan sosialisasi pada masyarakat agar tidak panik berlebihan,” pungkas Lasidi. Editor : Safitri