Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

13 Desa Masuk Zona Rawan Tsunami

Safitri • Kamis, 8 Oktober 2020 | 21:03 WIB
DAMPAK BENCANA: Warga membersihkan rumah akibat ombak besar yang terjadi di Pantai Payangan, Sumberrejo, Ambulu, akhir Mei lalu. Kawasan ini menjadi satu dari 13 desa yang masuk zona rawan bencana tsunami.
DAMPAK BENCANA: Warga membersihkan rumah akibat ombak besar yang terjadi di Pantai Payangan, Sumberrejo, Ambulu, akhir Mei lalu. Kawasan ini menjadi satu dari 13 desa yang masuk zona rawan bencana tsunami.
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menjadi satu dari sembilan kabupaten di Jawa Timur yang masuk zona rawan bencana gempa dan tsunami. Sebab, di kabupaten penghasil tembakau ini terdapat sejumlah daerah yang berada di kawasan pesisir pantai selatan.

Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, sedikitnya terdapat enam kecamatan yang berpotensi terdampak bencana gempa dan gelombang tsunami. Mulai Kecamatan Kencong, Gumukmas, Puger, Wuluhan, Ambulu, hingga Kecamatan Tempurejo.

"Dari enam kecamatan itu, terdapat 13 desa yang tersebar di sepanjang pesisir pantai selatan Jember," terang M Yusuf, Sekretaris BPBD Jember. Menurutnya, keenam kecamatan tersebut sudah menjadi pantauan selama ini.

Di desa-desa itu pula, Yusuf menjelaskan, sudah dibentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). Kendati ia tidak menyebut seberapa jauh efektivitas Destana itu untuk upaya mitigasi bencana. "Kita intens mengomunikasikan dengan camat, muspika, berikut kades di masing-masing daerah tersebut," akunya.

Sebelumnya, masyarakat di pesisir selatan Jember sempat dibuat waswas dengan beredarnya hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG). Penelitian itu menyebutkan, pantai selatan berpotensi terjadi gempa dan gelombang tsunami setinggi kisaran 10-20 meter. Kendati tidak menyebutkan kapan terjadinya, namun kabar tersebut sempat viral di media sosial, beberapa pekan kemarin.

Terkait hal itu, Yusuf menyatakan, jika berbicara soal potensi, seluruh kawasan pesisir pantai memang dianggap berpotensi. Namun, tentang kapan terjadinya, ia mengatakan, hal itu tidak bisa diperkirakan. "Potensi memang ada. Tapi jangan diterjemahkan kapan terjadi. Karena itu tidak ada yang tahu," jelasnya.

Selama ini, di sekitar pesisir pantai selatan Jember diakuinya sudah dilakukan upaya edukasi bencana. Seperti pemasangan rambu-rambu rawan bencana, atau rambu-rambu jalur evakuasi, dan sejenisnya.

Sementara, untuk perangkat pendukung, lanjut dia, hal itu masih perlu tambahan. "Seperti mobil tangki air bersih, perahu karet, dan semacamnya. Alat-alat itu dibutuhkan. Sementara milik kita terbatas. Semoga ke depannya ada kerja sama untuk pengadaan," imbuhnya.

Upaya mempersiapkan diri menghadapi bencana diyakininya lebih baik. Tujuannya bukan untuk melawan bencana, namun untuk meminimalisasi dampak atau risiko yang ditimbulkan dari bencana tersebut. Editor : Safitri
#Jember