Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Nyambi Jual Bensin Eceran dan Buka Toko Kelontong

Safitri • Selasa, 6 Oktober 2020 | 21:35 WIB
SOLIDARITAS: Komunitas suporter Bonek Jember seusai menggalang dana untuk korban banjir di Jember, belum lama ini.
SOLIDARITAS: Komunitas suporter Bonek Jember seusai menggalang dana untuk korban banjir di Jember, belum lama ini.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Terik siang itu tak menyurutkan semangat Toyib membuka tempat penukaran uang asing di Jalan Kota Blater, Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu. Sebuah kursi panjang di depan kantor miliknya seolah ikut menanti pelanggan datang. Mata Toyib juga selalu awas. Ketika ada orang yang berhenti, dia siap menyambut. Siapa tahu mereka adalah pelanggan pertama yang akan menukarkan uang di tempatnya.

Ternyata, orang-orang yang berhenti itu bukan untuk menukarkan uang, tapi membeli bensin eceran yang dia jual.Pandemi Covid-19 membuat mobilitas para TKI turun drastis. Dampaknya, tak ada yang menukar uang. Karena tak ada warga yang pergi maupun pulang dari negeri seberang,” tutur Toyib.

Warga Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, ini mengatakan, wabah berpengaruh pada jasa penukaran uang asing yang dia kelola. Bahkan lebih lima bulan ini, usahanya seperti mati suri. “Apalagi, ada larangan TKI tak boleh masuk ke Malaysia. Sebab, selain Taiwan dan Hongkong, Malaysia merupakan salah satu negara jujukan para pekerja migran,” katanya.

Toyib mengaku, momentum Lebaran yang biasanya menjadi masa panen jasa penukaran uang, juga sepi. Sebab, banyak pekerja migran yang tidak mudik. Kebanyakan dari mereka tidak pulang ke negara asal karena ada pembatasan di negara tempat bekerja. “Padahal, nilai tukarnya relatif naik. Hanya saja, tidak ada yang menukar uang, karena memang tak ada kepulangan TKI,” ujarnya.

Meski demikian, Toyib tak mau menyerah. Walau usahanya sepi, dia tidak punya rencana untuk menutup usaha tersebut. Apalagi, dirinya juga meyakini pagebluk akan segera berakhir dan keadaan akan normal kembali. “Makanya saya akan selalu membuka tempat usaha ini,” ucapnya.

Juli Satrio Utomo, pegawai tempat penukaran uang asing di selatan Pasar Ambulu, juga menyatakan hal serupa. Kata dia, pandemi benar-benar berdampak. Tak ada yang menukar uang di tempatnya. Hal itu dirasakan sejak kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Yakni pada pertengahan Maret lalu. “Tapi, yang paling parah pada saat Ramadan,” ungkapnya.

Sekitar Mei, dia mengaku, sama sekali tak ada yang menukar uang. Kondisi ini berlanjut sampai Agustus. Keadaan mulai membaik September ini. Sejak awal bulan, ada saja warga yang menukarkan uang, walau jumlahnya masih sedikit. “Ada, tapi hanya satu dua orang saja. Itu pun bukan orang yang baru pulang dari luar negeri. Melainkan, orang yang sudah pulang sebelum pandemi. Itu uang simpanan,” ujarnya.

Demi bertahan hidup selama pandemi, warga Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu menyiasatinya dengan membuka toko kelontong. Jadi, dirinya belanja barang dagangan di toko grosir dekat tempat usahanya, lalu dijual di rumah. “Sehingga saya tetap bisa membuka jasa penukaran uang asing sembari berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” tandasnya. Editor : Safitri
#Covid-19 #Jember #pedagang