Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari warganya beragam. Ada yang mengemis, memulung sampah, tukang becak, penjual cilok, atau kerja serabutan lainnya. Mereka tinggal di rumah-rumah berimpitan. Begitu sesak. Bahkan, gang-gang kecil hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua atau becak.
Rumah-rumah petak banyak dijumpai di sana. Dulunya, sekitar tahun 90-an sampai 2000-an awal, lingkungan tersebut sudah terkenal dengan julukan "Anak Asrama". Apabila anak-anak kecil yang tinggal di sana pergi bermain ke kampung sebelah, sebutan itu otomatis tersemat.
Rumah petak yang berdempetan layaknya asrama menjadi musabab munculnya julukan itu. Selain sebagai penanda kawasan, sebutan itu ternyata juga memiliki konotasi negatif. Anak Asrama identik dengan tindakan kriminalitas. Stigma ini berimbas terhadap kehidupan anak-anak.
“Jadi, dulu anak-anak ini distempel kalau main ke luar kampung sebagai anaknya maling. Karena memang dulu kriminalitas di sini cukup tinggi,” ujar Cucuk Sudaryanto, Ketua RW 08. Namun itu dulu. Kini, permukiman padat penduduk itu berangsur membaik. Banyak warganya yang menjauhi aksi kriminalitas.
Cucuk menceritakan, sekitar tahun 1997-an silam, ketika dirinya kali pertama menjadi warga Talangsari, situasinya cukup memprihatinkan. Beberapa anak ada yang putus sekolah. Biasanya mereka langsung berkerja. “Kebanyakan nyemir sepatu di Pasar Tanjung,” kenang pria berusia 48 tahun ini.
Kendati begitu, hingga kini masih ada kebiasaan miring warga setempat. Sebagian ada yang bekerja meminta-minta. Tapi hanya di momen Ramadan. Warga memanfaatkan momen bulan puasa itu dengan mengemis. “Tetap ada. Tapi hanya beberapa saja. Itu pun hanya momen Ramadan,” imbuh Cucuk.
Sebenarnya, Cucuk berkata, pihaknya bersama warga pernah menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jember sekitar tahun 2006-2008 silam. Dia didapuk sebagai pendamping dalam program pengentasan kemiskinan itu. “Sebagai pendamping saja, untuk pemberdayaan para pengemis ini. Tetapi itu tidak mudah. Kembali lagi faktor SDM sangat berpengaruh,” ujarnya.
Selain faktor SDM, faktor kebiasaan atau pola hidup juga menjadi kunci. “Memang ada satu dua orang yang berubah. Mulai meninggalkan mengemis. Tapi itu hanya beberapa saja, yang lainnya masih pancet,” lanjutnya.
Dulu, kampungnya juga sering kebanjiran. Saluran drainase menjadi masalah utama di tengah padatnya rumah-rumah penduduk. Tapi sejak 2018 lalu, setelah drainasenya dikeruk, masalah kebanjiran itu teratasi.
Ternyata, Cucuk punya ide guna memberikan edukasi serta aktivitas bagi para tetangga dan generasi muda di lingkungannya. Agar terhindar dari kegiatan negatif, semacam mengemis dan tindakan kriminalitas, dia mengenalkan seni budaya ke mereka.
Cucuk menjadi salah satu pegiat seni di kampungnya. Seni jaranan dan reog. “Kesenian ini juga untuk mengurangi anak-anak menjadi pengemis. Melalui kesenian tradisi dan edukasi ini, harapannya dapat memutus mata rantai mengemis tersebut,” ungkapnya.
Kini, selain kerap menggelar latihan bersama, mereka juga sering menjalani pementasan jaranan. Kegiatan itu menjadi sarana positif untuk mengajak anak-anak dan remaja setempat bangkit dari spiral kemiskinan dan kriminalitas. Editor : Safitri