“Kenapa diberi nama korek? Soalnya, jembatan ini dulu menjadi jalan yang digunakan untuk mendistribusikan korek,” tutur Heri, warga sekitar. Menurutnya, pada zaman Belanda dulu, pernah ada pabrik korek di Desa Ungkalan. Akses terdekat dari kota lewat tempat tersebut. Jadi, warga sekitar spontan memberi nama tempat ini menjadi Geladak Korek.
Selain menjadi tempat lalu-lalang kendaraan pengirim korek, jembatan tersebut juga dimanfaatkan warga Desa Andongsari untuk akses mencari rumput dan mengolah ladang di Dusun Ungkalan. Namun, Geladak Korek itu roboh diterjang banjir sekitar 1954 lalu. “Dan sejak saat itu warga menggunakan fasilitas getek untuk menyeberangi sungai. Ini artinya sejak 66 tahun silam,” ujar Sulaiman, pengemudi getek.
Warga kelahiran 1969 itu merupakan orang yang sudah bekerja menjadi pemandu getek sejak 2002 lalu. Dulu, dia mengungkapkan, operasional getek ini sempat macet pada 1999 karena ada penutupan hutan di sekitar Dusun Ungkalan. “Alasannya, karena sering kali ada pembalakan liar di daerah yang dimiliki PT Perkebunan XII,” tuturnya.
Setelah bekerja sama dengan warga sekitar, Sulaiman menjelaskan, daerah tersebut kembali aktif. Jadi, warga diberi kesempatan untuk menggarap ladang kembali. “Akhirnya, transportasi getek ini pun kembali beroperasi pada 2002,” ungkapnya.
Hingga saat ini, getek masih menjadi tumpuan warga sekitar untuk menyeberangi Sungai Bengawan. Baik sekadar untuk mencari rumput sebagai pakan ternak maupun mengolah ladang. “Sebenarnya ada akses lain. Yakni Geladak Gantung yang berada di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu,” ujarnya.
Namun, Sulaiman menyebut, akses ke sana cukup jauh. Warga harus memutar jika ingin berkunjung ke Dusun Ungkalan atau menggarap ladang mereka yang berada di kawasan hutan. “Jadi, getek di Geladak Korek ini merupakan satu-satunya harapan warga Andongsari hingga saat ini,” ulasnya.
Sebagai pemandu getek, Sulaiman menyatakan, armada air yang terbuat dari rangkaian bambu dan kayu itu hanya muat menampung tidak lebih dari 10 orang beserta kendaraannya. Jika lebih, harus dua kali angkut. Kendalanya, terkadang arus cukup deras. “Jika arus deras, biasanya pintu sungai di hilir dibuka. Jadi, akan banyak sampah yang memengaruhi laju getek dan bisa merusak bagian bawah,” ungkapnya. Editor : Safitri