Oleh karena itu, para petani butuh inovasi pengembangan produk baru terkait dengan pengelolaan tanaman tembakau. Dengan begitu, para petani tembakau memiliki pilihan lain jika harganya anjlok.
Sekretaris UPT Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang Disperindag Provinsi Jatim/Lembaga Tembakau Jember Satsiwi Pertiwi menjelaskan, tanaman tembakau bisa diolah menjadi banyak produk. Di antaranya untuk parfum, kosmetik, sabun, dan pupuk organik. “Produk yang ada juga telah ada di museum Lembaga Tembakau Jember. Sayang, masih pandemi. Jadi, museum ditutup untuk sementara waktu,” terangnya.
Selain itu, lanjut dia, ada juga pengobatan yang memanfaatkan tanaman tembakau. Yakni penyembuhan kanker getah bening dengan menggunakan asap yang dihasilkan dari tanaman tembakau.
Menurut dia, hal itu merupakan satu dari sekian banyak solusi yang bisa digunakan pemerintah maupun masyarakat Jember untuk berbenah. “Jadi, tembakau itu bukan hanya untuk bahan rokok saja, tapi bisa diolah menjadi banyak hal,” terangnya.
Hanya saja, hal ini masih belum mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun para pengusaha. Jika ada yang bisa memfasilitasi hal tersebut, tentu saja bisa memunculkan produk lain dari tanaman tembakau. “Jadi, tak terpaku bahwa tembakau itu hanya untuk rokok,” paparnya. Karena sama sekali tak ada lirikan dari pengusaha, produk-produk yang dihasilkan dari tembakau ini hanya sebatas trial, karena belum mendapatkan pasaran.
Lebih lanjut, warga Kecamatan Sumbersari itu menerangkan bahwa tanaman tembakau tersebut tentu saja masih bisa diolah supaya menghasilkan produk-produk lain. “Yakni, dengan mengadakan penelitian,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Urusan Tembakau Jember (KUTJ) Yosi Ali Arifandi menuturkan bahwa anjloknya harga tembakau diakibatkan beberapa hal. Salah satunya karena kualitas tembakau yang menurun. “Mengingat, situasi cuaca saat ini sangat tidak menentu,” imbuhnya.
Menindaklanjuti hal itu, sebenarnya ada inovasi pengembangan produk untuk tanaman tembakau. Salah satunya dengan memfungsikan bunga tembakau menjadi obat nyamuk. “Tapi, untuk produk dari tembakau na oogst karena memiliki lebih banyak bunga ketimbang kasturi,” ujarnya.
Sementara itu, para peneliti juga telah berupaya untuk membuat obat yang berbahan dasar tanaman tembakau. “Namun, ini masih dalam tahap penelitian,” pungkasnya. Editor : Safitri