Mahfud Ali, salah satu petani tembakau kasturi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, merasakan benar lesunya tembakau tahun ini. Dirinya sempat bersyukur tidak mengalami rugi besar. "Biaya produksi tembakau dan hasil penjualan sekarang ini tidak ada labanya. Mungkin hanya balik modal saja. Informasi dari gudang memang dikarenakan pengaruh pandemi korona ini,” jelas Mahfud.
Pola kemitraan petani dengan pabrik rokok pun memang ada sisi positif dan negatifnya. Mahfud menambahkan, klausul kemitraan tersebut perjanjian berdasarkan pangsa pasarnya. “Jadi, tidak sama dengan kemitraan jagung. Kalau jagung ada patokan harga di awal. Kalau tembakau ini beda. Hanya saja, ada kepastian pasar,” bebernya.
Untungnya, bagi petani yang sudah bermitra, mereka sudah mendapatkan kepastian pasar, di mana harus menjual produk tembakaunya. “Kalau masalah harga, tergantung harga pasaran tembakau global. Bisa naik turun. Tidak ada patokan harganya. Kalau turun ya pasti rugi,” imbuh pria berusia 42 tahun ini.
Mahfud mengaku, kalau tak bermitra dengan pabrik, dia bisa kelimpungan guna memasarkan hasil tembakaunya. “Bisa nggak karuan memasok ke pasar mana. Di satu sisi ada pangsa pasarnya, di satu sisi tidak ada kepastian harganya,” ujar pria yang sudah bermitra dengan pabrik rokok selama tiga tahun ini.
Mahfud mulai menjalin kemitraan sejak 2018 lalu hingga sekarang. Pabrik rokok yang bermitra dengan Mahfud awalnya di Jember. Namun, sekarang sudah pindah ke Bondowoso.
Menurutnya, pola kemitraan ini juga menguntungkan bagi petani. Sebab, pola itu bisa memutus beberapa rantai perdagangan. “Dari tengkulak dan pengepul kecil. Ya langsung dari petani ke supplier pabrik,” lanjut dia.
Tahun ini penurunan harga tembakau kasturi mencapai 15-17 persen. Penurunan itu sudah disampaikan oleh pihak pabrik, lantaran kondisi pandemi Covid-19. “Yang jadi masalah, persentase pembeliannya tidak sebanyak tahun kemarin,” pungkas Mahfud. Editor : Safitri