Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi (APTK) Kabupaten Jember Abdurrahman mengungkapkan, penurunan harga kasturi tahun ini memang tidak wajar dan tidak seperti biasanya. Ia membeberkan, sebenarnya di Jember, produksi petani tembakau kasturi masih cukup bagus. Bahkan lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pabrik atau perusahaan rokok. "Jika diestimasikan, kasturi di Jember bisa dicapai sekitar 15 ribu ton. Sementara daya serap pabrik dan perusahaan baru 8.800 ton. Ada kelebihan 6.200 ton," bebernya.
Sementara soal harga, lanjut dia, tahun lalu dengan tahun ini juga terjadi penurunan begitu signifikan. Ia menyebut, turunnya harga itu ada berbagai faktor. Paling utama adalah karena kenaikan cukai rokok. Karena pemerintah hari ini ingin menargetkan pemasukan sebesar-besarnya ke kas negara melalui cukai rokok.
Hal itu dinilainya menjadi faktor dominan dari mata rantai yang saling terkait. Tak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Yakni petani, pabrik atau perusahaan, dan pemerintah. Kata dia, akar masalahnya berawal dari pemerintah yang menaikkan cukai rokok. "Naiknya cukai, maka perusahaan juga menaikkan harga. Sehingga hal itu membuat pasar melemah karena rokok naik. Dan itu pasti berdampak terhadap berkurangnya serapan tembakau dari petani," jelas Abdurrahman.
Sebab, dengan naiknya cukai, banyak konsumen tidak menjangkau untuk membeli rokok kelas premium ke atas lantaran semakin mahal. Muaranya tetap saja ke petani. Karena sektor hulu kretek ini sangat bergantung pada sektor hilir. "Dalam hal ini yang tidak terdampak itu hanya pemerintah. Pemerintah tak mau tahu, yang penting Rp 168 triliun itu masuk ke kas negara. Risiko di bawah, ya sudah ditanggung sendiri. Itulah pemerintah," terangnya.
Kendati demikian, penurunan harga tembakau juga diakui karena faktor lain. Tapi tak begitu dominan. Seperti mahal dan langkanya pupuk bersubsidi dan efek samping pandemi Covid-19.
Hal serupa juga diungkapkan Soeseno, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI). Menurutnya, secara hasil ataupun kualitas panen, sebenarnya tidak ada masalah dan tetap bagus. Harganya saja yang lebih rendah dari tahun lalu. "Kenaikan cukai yang sangat tinggi di 2020 membuat harga rokok ikut naik. Itu membuat serapan tembakau petani juga menurun. Karena daya beli pabrik ikut melemah," bebernya.
Lemahnya daya serap pabrik itu diakui wajar. Sebab, sebagaimana pabrik atau perusahaan, mereka tentu menghindari risiko atau kemungkinan terburuk. Baik menyangkut biaya operasional maupun tenaga kerja dan lainnya. Namun tetap saja, yang paling terpukul petani tembakau. Fakta itu juga diperparah dengan banyaknya pabrik atau perusahaan kecil yang tutup dan tutup sementara karena Covid-19. Inilah yang dinilainya turut berpengaruh terhadap daya serap tembakau petani.
Sebagai Ketua APTI Nasional, pria yang tinggal di Griya Mangli, Kaliwates, itu selama ini tak berdiam diri. Ia mengaku sempat berbicara dengan berbagai forum nasional untuk menyuarakan kepentingan petani. Bahkan, melalui wakil rakyat di DPRD kabupaten hingga provinsi di Jawa Timur.
Baginya, segala keluhan petani hari ini perlu menjadi alarm keras, terkhusus pemerintah, atau dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jember. Bahwa petani hari ini sedang tidak baik-baik saja. "Kita minta ke pemerintah, kenaikan cukai tidak terlalu tinggi. Namun, harus bisa menyesuaikan dengan kondisi petani di bawah," pungkasnya. Editor : Safitri