Ya, Nanang bertugas sebagai masinis kereta lori tebu di PG Semboro. Pria asli Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ini sudah bekerja di atas rel sejak 2011 silam, di pabrik gula peninggalan zaman Belanda ini.
Sembari menarik tuas untuk jalan mundur dari gedung bengkel perawatan lokomotif lori atau yang biasa disebut Pelayanan Teknik (Peltek), Nanang juga harus mengamati jalan bergelombang rangkaian rel lori. Ya, rel kereta lori ini memang tidak semulus rel kereta diesel milik PT KAI. Ukurannya kecil, tidak ada bantalan rel dari kerikil, membuat rel kereta lori ini bergelombang.
Sesekali, Nanang berkoordinasi dengan rekannya, Agus Supriyanto, sebagai kernetnya. Istilah kerennya, asisten masinis. “Kalau mengendarai lokomotif lori tebu ini harus telaten. Nggak bisa jalan dengan kecepatan penuh. Maksimal jalannya hanya 50 kilometer per jam,” tutur Nanang.
Nanang menceritakan bahwa dirinya tak serta-merta langsung menjadi masinis. Sama seperti masinis KAI, butuh rangkaian proses untuk mendapatkan pengalaman sebagai masinis. Jika di KAI, masinis tak boleh langsung membawa kereta penumpang. Awal-awal mereka hanya sebagai masinis kereta langsir. Setelah itu, baru naik tingkat jadi asisten masinis kereta barang atau penumpang. Barulah dapat menjadi masinis dengan kereta penumpang.
“Awalnya, saya ya jadi asisten dulu. Nggak bisa langsung jadi masinis. Tapi beberapa tahun belakangan ini, akhirnya saya jadi masinis. Kebetulan, masinis sebelumnya sakit, akhirnya saya yang gantikan,” kata Nanang kepada Jawa Pos Radar Jember.
Minimal untuk sekali perjalanan membawa kereta lori tebu itu, ada dua personel yang berada di dalam lokomotif, yakni masinis dan asistennya. “Tidak boleh kalau masinis sendirian,” selorohnya.
Asisten masinis bertugas membantu masinis. Contohnya, ketika berada di persimpangan rel. Sebab, di persimpangan rel kereta lori ini, perpindahan rel masih menggunakan tenaga manual. “Asisten itu yang menarik weselnya kalau pindah jalur,” lanjut Nanang.
Selain pindah rel, asisten juga bertugas memastikan roda lokomotif tidak licin. Itu yang dilakukan Agus. Dalam proses perjalanan, di atas roda depan lokomotif terdapat sebuah kantung yang berisikan pasir. Pasir itulah yang membantu keseluruhan roda untuk melaju pelan, dengan cara dituangkan di bagian rel depan pada saat lori berjalan.
Keduanya bercerita, sempat mengalami musibah saat mengendarai kereta lori ini. “Dulu malah pernah terguling lokomotifnya, karena relnya bergelombang,” kata Nanang.
Maka dari itu, mengendarai si loko tebu ini harus ekstra sabar dan hati-hati. Selain tak boleh memacu dengan kecepatan tinggi, tantangan rel bergelombang dan medan yang berat di tengah kebun menjadi persoalan tersendiri. “Tapi ya harus dinikmati. Saya jadi masinis lori ini juga tidak ada bosannya kok,” ungkapnya.
Kenapa tak bosan? Nanang mengaku, setiap hari dirinya bisa keliling kebun. Tak hanya di pabrik. “Kan bisa keliling kebun. Ke kebun Rowotengah, Gumukmas, Kencong, dan Jombang,” pungkas Nanang. Editor : Safitri