Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Potret Pasutri Lansia di Gua Gladak Kembar

Safitri • Kamis, 17 September 2020 | 00:02 WIB
SUSAH: Asnawiyah berbagi cerita kehidupannya di bangunan bawah jembatan, yang kerak disebut sebagai gua Gladak Kembar.
SUSAH: Asnawiyah berbagi cerita kehidupannya di bangunan bawah jembatan, yang kerak disebut sebagai gua Gladak Kembar.
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bangunan rumahnya berukuran 10 x 5 meter. Berdiri tepat di bawah jembatan Gladak Kembar. Tembok rumahnya langsung berhadapan dengan struktur bangunan dinding jembatan. Atapnya adalah jalanan jembatan. Ruang untuk dapur dan tempat tidur langsung menyatu dalam satu ruangan. Tidak ada pembatas. Orang- orang menyebut bangunan ini sebagai bangunan Gua Gladak Kembar.

Inilah potret bangunan yang dihuni oleh pasangan sepuh, Asnawiyah dan Sutrisno Winoto. Sudah satu tahun mereka hidup di kolong jembatan yang ikonik di Jember ini. Bangunan tersebut merupakan hasil pemberian dari tetangga kontrakannya, yang dulu berprofesi sebagai pengepul rosokan. Dibeli dengan harga Rp 800 ribu.

Sebelumnya, Asnawiyah dan Sutrisno tinggal berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Asnawiyah bekerja sebagai pesuruh di sebuah warung pecel. Begitupun dengan suaminya. Dalam satu bulan, Sutrisno mendapat upah Rp 400 ribu. Sedangkan, Asnawiyah sendiri tiap harinya mendapat bayaran Rp 25 ribu. “Saya yang biasanya nggoreng gorengan, masak. Bapak penjaga parkir di sana. Cuci piring juga,” ungkap perempuan berusia 50 tahun itu.

Pendapatan tersebut tentu sangat pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya sehar-hari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih misalnya, Asnawiyah harus mengeluarkan uang sekurang–kurangnya Rp 10 ribu per hari. Sedangkan untuk aliran listrik, dia membayar Rp 75 ribu per bulan.

Sayang, masa tua Asnawiyah dan Sutrisno tak terurus oleh buah hatinya. Pasangan yang memiliki tiga anak ini mengaku hubungan mereka tak harmonis. Anak- anaknya tak pernah menyambanginya. Inilah yang membuat Asnawiyah bersedih. Di masa tuanya, anak- anaknya justru acuh dengan hidupnya. Namun, doa dan perhatian kepada anaknya tak pernah putus. “Saya punya tujuh cucu. Kalau mereka minta jajan ya saya kasih yang saya punya,” ungkap Asnawiyah.

Mereka tentu berharap, ada perhatian dari pemerintah yang bisa diterima. Sebab selama ini dia tak pernah mendapat bantuan layaknya masyarakat lainnya. Padahal, pasangan tersebut nyaris tak pernah absen untuk mengajukan bantuan pemerintah. Apalagi di masa pandemi ini.

  Editor : Safitri
#Jember